Wednesday, November 12, 2014

Ribuan WNI Ditahan di Malaysia Karena Narkoba

Pengedar Shabu-Shabu Jaringan MalaysiaKuala Lumpur, (Antara KL) - Lebih dari 2 ribu warga Indonesia ditahan di Malaysia sejak dua tahun terakhir karena menjadi kurir sabu-sabu yang akan diselundupkan ke Indonesia, dengan harga jual narkoba tersebut yang jauh lebih mahal dibandingkan di Malaysia.

Harga sabu-sabu yang mencapai antara 500-600 ribu ringgit (Rp1,9-2,2 miliar) per kg di Indonesia dibandingkan hanya 150-200 ribu (Rp554-738 juta) per kg di Malaysia, membuat para kurir tersebut semakin nekad beraksi meski berhadapan dengan risiko hukuman mati jika tertangkap.

Kepala bagian penyelidikan kejahatan narkotika (JSJN) Bukit Aman Datuk Seri Noor Rashid Ibrahim, Kamis mengatakan, sejak 2012 hingga Mei 2014 pihak berwenang Malaysia berhasil menahan 2.240 WNI atas kesalahan mencoba menyelundupkan keluar narkoba dari Malaysia.

"Dalam tahun ini saja, sebanyak 153 warga Indonesia berhasil ditahan karena diduga menjadi kurir narkoba dan anggota sindikat narkoba," katanya seperti dikutip media-media lokal di Kuala Lumpur, Kamis (13/11).

Menurut dia, mereka yang tertangkap itu menjalani hukuman di Malaysia dan ada yang tengah menunggu hukuman gantung atas kejahatan yang mereka lakukan.

"Mereka sanggup menjual nyawa karena dibayar upah lumayan mencapai ribuan ringgit oleh sindikat narkoba yang berpangkalan di negeri jiran," katanya.

Ia mengatakan sindikat pengedar dari Indonesia itu akan menggunakan jalan tikus dan kawasan pesisir pantai di Perak, Selangor atau Johor untuk menyelundupkan narkoba.

JSJN bekerjasama dengan Direktorat IV Tindak Pidana Narkoba Kepolisian RI dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam usaha menangani kejahatan ini.

Berdasar informasi dari Polri, kasus penangkapan terhadap penyelundup shabu-shabu dari Malaysia terjadi hampir setiap pekan.

Para kurir tersebut diantaranya menggunakan Pelabuhan Bakauheni, Pekanbaru, Medan, Tanjung Balai di Batam dan Beton Sekupang untuk menyelundupkan sabu-sabu.
(AB)

Bersama Pengurus NUCIM Audensi dengan Bapak Herman Prayitno Dubes Ri Untuk Pemerintah Malaysia




Friday, November 7, 2014

SERANGKAYAN kegiatan MASYARAKAT Indonesia Di Malaysia Yang Saya Hadiri


Menghadiri Acara Sosialisasi Kewarganegaraan Indonesia Di Luar Negeri Oleh Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia Di KBRI Kuala Lumpur




Kuala Lumpur, (AntaraKL) -  Anak-anak warga negara Indonesia yang lahir di luar negeri harus memiliki status kewarganegaraan yang jelas karena sudah menjadi ketentuan dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa negara melindungi segenap Bangsa Indonesia, kata pejabat Kementerian Hukum dan HAM RI.

"Jadi, mereka (anak-anak TKI/WNI) yang lahir di luar negeri tidak boleh 'stateless' (tidak punya kewarganegaraan)," ungkap Kepala Balitbang HAM Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-Undangan Departemen Hukum dan HAM, Mualimin Abdi dalam diskusi tentang kewarganegaraan dengan sejumlah masyarakat Indonesia di Kuala LUmpur, Malaysia, Jumat (7/11).

Namun, kata dia, jika terjadi hambatan dalam pelaksanaannya seperti dalam kelengkapan administrasi, maka harus dicarikan jalan agar anak-anak tersebut bisa mendapatkan status kewarganegaraannya.

Apabila aturan hukum mempersulit, dia berpendapat tentu perlu dicari jalan keluarnya mengingat  salah satu bentuk hukum yang dibuat itu adalah untuk memenuhi hak asasi manusia.

Jika dilihat kasus per kasus, maka sepertinya permasalahan ini terjadi akibat ketidaktahuan para TKI/WNI yang menetap di luar negeri tentang peraturan perundangan yang berlaku terkait status kewarganegaraan tersebut.

Ataupun, lanjut dia, mungkin memang sengaja mereka membiarkan ketidaktahuan itu karena enggan mengurusnya.

Di sisi lain, permasalahan tentang status kewarganegaraan ini akibat aparat kurang melakukan sosialisasi.

Dengan kelemahan-kelemahan tersebut, maka banyak dimanfaatkan oleh para calo yang menyatakan mampu menguruskannya dengan cepat.

Senada disampaikan Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia, Hermono bahwa banyak kasus status tidak jelas dari anak para TKI/WNI yang dilahirkan di negara tempatnya bekerja akibat orang tua yang pernikahannya tidak sah secara negara dan juga orangtuanya tidak memiliki izin kerja yang benar.

"Karena status ilegal tersebut mereka tidak berani ke Rumah Sakit untuk bersalin, akibatnya banyak dari mereka yang terpaksa melahirkan di bedeng tempatnya bekerja," jelasnya.

Ironisnya, kata Hermono, akibat melahirkan tidak di rumah sakit, maka anak yang dilahirkan dari orangtua tersebut tidak punya surat keterangan lahir yang menjadi syarat untuk pengurusan akte kelahiran.

Inilah yang menimbulkan permasalahan di kemudian hari, sebab ketika anak ini mau dibawa pulang ke Tanah Air, muncul kendala untuk menguruskan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) karena si anak tidak memiliki surat keterangan lahir.

Dengan tidak ada kelengkapan tersebut maka berimbas terhadap akses untuk memperoleh pendidikan di sekolah.

Hermono memberikan contoh terdapat sekitar 50 ribu anak-anak pekerja Indonesia di Sabah dan Serawak yang tidak bisa memperoleh akses sekolah akibat permasalahan status kewarganegaraan tersebut.

Oleh karenanya, Pemerintah Indonesia harus mencarikan solusinya agar anak tersebut bisa memperoleh hak-haknya terutama untuk akses pendidikan.
   
Masukan masyarakat

Diskusi evaluasi peraturan perundang undangan dan hak asasi manusia terkait perlindungan WNI di luar negeri yang dilaksanakan Kementerian Hukum dan HAM RI di Gedung KBRI Kuala Lumpur tersebut berupaya mendapatkan respon, informasi, ataupun masukan dari masyarakat Indonesia yang berada di Malaysia.

Menurut Atase Hukum KBRI Kuala Lumpur, Fajar Sulaeman, diskusi ini berupaya memberikan sosialisasi kepada sejumlah kelompok masyarakat Indonesia di negara ini terkait pemahaman kewarganegaraan.

"Kami berupaya untuk memperoleh masukan dalam rangka persiapan penyempurnaan dan penyusunan peraturan perundang-undangan terkait perlindungan WNI," kata Fajar.

Selain itu, lanjut dia, pelaksanaan diskusi tersebut juga untuk evaluasi terhadap pelaksanaan perlindungan dan pemenuhan HAM.

"Mendapatkan masukan dari masyarakat merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi atase hukum di luar negeri," tegasnya.

Hadir dalam diskusi tersebut sejumlah kelompok masyarakat Indonesia di Malaysia seperti Ikatan Komunitas Merah Putih (IKMP), Paguyuban Masyarakat Jawa di Malaysia (PASOMAJA), Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Persatuan Pelajar Indonesia (PPIM), Ikatan masyarakat Madura (IKMA), IPAMSU, PERISAI, Edukasi Untuk Bangsa (EUB) dan Muslimat, Nahdlatul Ulama (NU) serta IndoKL.

Kelompok-kelompok tersebut merupakan sebagian dari masyarakat Indonesia di Malaysia yang peduli dengan sesama WNI serta senantiasa menjalin tali silahturahmi. (AB)

diskusi.jpgIMG_4850.JPG

Friday, September 19, 2014

Kualitas Jalan PNPM di Kumalasa Diragukan Kontruksi Pembangunannya

Media Bawean, 19 September 2014



Pembangunan jalan rabat beton di Dusun Kumalabaru, desa Kumalasa, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik diragukan kualitas kontruksinya sehubungan campuranya diperkirakan 1, 6, 8 dari yang seharusnya 1,4,6.
Terbukti kualitas jalan yang dibangun sepanjang 500 meter bisa dilihat melalui mata telanjang seperti terlalu muda dalam campurannya sehingga mudah untuk rusak. Warga Kumalasa yang tidak bersedia disebut namanya mengatakan pembangunan jalan di Kumalabaru menuju Kumalasa sudah diperbaiki setelah dibangun sekitar 2 bulan yang lalu. "Tapi meskipun diperbaiki tetap saja diraguan kualitasnya sehubungan kontruksi dari awal campurannya sudah tidak sesuai,"katanya.
Muhammad Yusuf, UPK PNPM di kecamatan Sangkapura dihubungi Media Bawean menuding bahwa kerusakan jalan disebabkan oleh warga Desa Kumalasa, melewati jalan yang dibangun sebelum waktunya selama 25 atau sampai 28 hari. "Yaitu ketika ada  kegiatan mahasiswa di desa Kumalasa, dan pengangkutan material untuk pembangunan jalan di desa Kumalasa,"katanya.

"Besok akan ditinjau kesana, bila ada kerusakan nantinya akan dibahas bersama desa untuk perbaikannya,"ujarnya.

Menerima tudingan UPK PNPM kecamatan Sangkapura, Kepala Desa Kumalasa, Idham Cholik mengatakan untuk mengangkut mahasiswa ke Kumalasa sudah meminta izin setelah proyek selesai dibangun selama 9 hari. "Untuk mengangkut material pembangunan di desa Kumalasa setelah proyek selesai selama 23 hari,"terangnya.
"Umumnya Jalan Poros Desa (JPD) bisa dilewati setelah dibangun selama 5 hari,"paparnya.
Jadi menurut Kades Kumalasa, melihat kondisi pembangunan PNPM yang ada sekarang ini memang sepertinya kualitas kurang sesuai seperti proyek jalan lainnya. (bst)

Desa Kumalasa Bisa Lebih Baik Pelayanan Full Service Untuk Warga

Media Bawean, 15 September 2014



Pemerintahan Desa Kumalasa, kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, Gresik bisa lebih baik sesuai semboyan Kabupaten Gresik bisa lebih baik.

Diantaranya pelayanan kepada warganya menjadi prioritas utama melalui keaktifan kepala desa bersama perangkatnya yang setia melayani di balai desa selama jam kerja. Dilanjutkan pelayanan dimanapun berada, kepala desa Idham Cholik selalu bersedia melayani sesuai kebutuhan warganya.

Ditemui Media Bawean (senin, 15/9/2014), Idham Cholik, kepala desa Kumalasa mengatakan pelayanan kepada masyarakat menjadi prioritas dalam melaksanakan kinerja pemerintahan desa. "Apapun keinginan ataupun kebutuhan warga menjadi tugas utama dalam memberikan pelayanan yang terbaik,"katanya.

Menurutnya balai desa menjadi pusat atau sentral dalam melaksanakan seluruh tugas dan kerja pemerintahan desa. "Seluruh aparatur desa sudah masuk aktif setiap hari memberikan pelayanan sesuai kebutuhan warga,"ujarnya.

"Setelah pelayanan di balai desa ditutup, warga yang butuh pelayanan bisa menghubungi dimanapun berada tanpa ada batasan waktu selama 24 jam,"paparnya.

Selain optimalisasi pelayanan kepada warganya, Pemerintahan Desa Kumalasa telah membangun jalan poros desa sebanyak 14 titik. "Kualitas jalan dalam pembangunan sangat diutamakan,"tuturnya.

"Pembagunan jalan poros desa merupakan kebutuhan seluruh masyarakat sebagai akses transpotasi dalam meningkatkan perekonomean,"jelasnya.
Untuk memudahkan akses jalan di desa Kumalasa, Idham Cholik menyatakan sudah siap membangun jalan lingkar di Dusun Kumalasa. "Setelah pembangunan jalan lingkar selesai, tentunya warga bisa memanfaatkannya secara baik,"pungkasnya. (bst)

Saturday, August 16, 2014

Merdeka...Ulta Negaraku Yang Ke 69 Tahun

 Mengikuti upacara bendera di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur

Monday, August 11, 2014

Pelantikan Pengurus Nu, Muslimat , Fatayat Cabang Istimewa Malaysia Tahun 2014 - 2017

Pengurus Nu Cabang Istimewa Malaysia Preode 2014 - 2017 di lantik oleh Ketua Nu Bapak Profesor Maksum....
Muslimat Nu di Lantiik oleh Ketua Umum Ibu Khofifah Indra Prawansa
Fatayat Nu di lantik oleh Ketua Umum Ibu Ida Fauziah

Tuesday, May 6, 2014

Seniman Asal Pulau Bawean Meninggal Dunia di Malaysia

Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun

Pelakon veteran film “Seniman Bujang Lapok”, asal Pulau Bawean, Gresik, Datuk Abdul Aziz Sattar meninggal dunia akibat penyakit jantung di Hospital Kajang, kira kira jam 2 pagi waktu Malaysia.

Anak perempuannya, Sandakiah berketerangan, Aziz menghembuskan nafas terakhirnya di usianya 89 tahun. Dua orang anak, menantu dan seorang cucunya lah yang mendapati teman dekat P Ramlee ini sudah meninggal.

“Ayah dimasukkan ke hospital sejak semalam selepas diserang penyakit jantung,” terang Sandakiah.

Kami sekeluarga sedang menguruskan jenazah yang akan dibawa pulang ke rumah di Bandar Tun Hussein Onn, Cheras, sebaik dibenarkan pihak hospital,” katanya ketika dihubungi BH Online sebentar tadi.

Sandakiah berkata, pihaknya juga sedang menguruskan pengebumian ayahnya yang dijangka dilakukan pagi ini. Gandingan Abdul Aziz atau lebih dikenali sebagai Pak Ajis bersama Seniman Negara, Allahyarham Tan Sri P Ramlee dan Allahyarham S Shamsuddin sebagai trio Bujang Lapuk menjadi antara watak ikonik dalam dunia senimatik Melayu sejak era 1950an

Datuk Abdul Azez bin Sattar atau lebih dikenal sebagai Aziz Sattar (lahir di Pulau Bawean, 8 Agustus 1925) merupakan salah seorang seniman serba bisa Malaysia. Ia berkecimpung di bidang seni sebagai aktor, sutradara, pelawak, dan penulis skenario sepanjang kariernya.

Kisah hidup Aziz di Tanah Melayu bermula ketika berusia tiga tahun, ketika ia mengikuti ayahnya Sattar Sawal dan ibunya Satimah Jalal hijrah ke Singapura. Dibesarkan di kampung Pasir Panjang, di situlah ia mempunyai dua kawan akrab yang turut menjadi aktor terkenal - Salleh Kamil dan Shariff Dol.

Aziz mendapat pendidikan Sekolah Melayu sampai kelas lima. Ia tidak dapat meneruskan pendidikannya akibat pendudukan Jepang di Malaysia. Pada umur 10 tahun, ia yang merupakan pelawak alamiah mulai menyanyi dan menari dalam perhelatan nikah dan kenduri-kenduri di kampung. Dalam usia awal 20-an, ia menjadi pengemudi truk dengan gaji sebanyak RM150.

Pada tahun 1950, ia menjadi anggota Pancaragam Suara Hiburan Keroncong, dan pada bulan September 1951 bekerja di Studio Jalan Ampas, Singapura. Kehidupan Aziz mulai berubah pada tahun 1952 saat diajak dua teman sekampungnya bekerja di studio Malay Film Productions. Pada awalnya, ia sekedar bekerja sebagai penyulih suara. Namun, ia terkejut karena gajinya ketika itu jauh lebih rendah dibandingkan pekerjaannya sebagai sopir truk, hanya RM70 sebulan. Pada tahun 1953, dia dipercaya bermain sebagai tokoh tambahan dalam film Putus Harapan.

Ia juga salah satu anggota Kelompok Panca Sitara.

Sattar menikah pertama kali dengan Siti Rumina Ahmad dan bercerai, lalu dengan Dayang Sofiah, namun juga berujung pada perceraian.

Sattar memiliki 7 orang anak, Ruzaiman, Ruzaidah, Ruzainah, Zainuddin, Dahlia, Dalina, Sandakiah.

Pada tanggal 16 Desember 2006, Aziz Sattar menikah dengan Hashimah Delan. Pasangan itu dinikahkan Pendaftar Nikah, Khairuddin Haiyon di Masjid Sultan Abdul Aziz, Shah Alam dengan maskawin RM100.Penghargaan

1981: Filem Komedi Terbaik, Filem Festival Malaysia ke-2. (untuk Penyamun Tarbus)

1990: Ahli Mangku Negara, Agong.

1994: Anugerah Seniman Veteran, Filem Festival Malaysia ke-11.

2000: Menerima "Tokoh Budaya Kolej Burhanuddin Helmi" dari Universiti Kebangsaan Malaysia

2000: Anugerah Seniman Veteran (Lelaki), Anugerah Bintang Popular 2000.

2007: Darjah Panglima Jasa Negara (PJN) untuk memperingati Hari Keputeraan Yang di-Pertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin

Abdul Aziz Sattar mengabdikan dirinya sebagai Ketua Persatuan Bawean Malaysia (PBM).

Media Bawean turut berduka cita dengan wafatnya Almarhum Datok Abdul Aziz Sattar. Semoga amal kebaikannya diterima disisi-Nya dan mendapat ampunan dari Allah SWT. (bst)

Wednesday, April 30, 2014

Perwira : Paguyuban TKI Di Kulim Ngadakan Perayaan Hari Buruh Sedunia Di Hadiri Pak Konjen

Salam
Hari ini tanggal 01-05-2015 adalah hari buruh sedunia

Perwira adalah paguyuban Tki yang berdomisilih di wilayah kerja Konsoler Jendral Indonesia Pulaua Pinang.
Organisasi Perwira di didirikan bertujuan untuk saling bertatap muka dan silaturrahmi sesama pekerja Indonesia yang berada di wilayah Pulau Pinang,Kulim, Kedah, Perlis dan Perak.

Perwira tidak pernah ketinggalan untuk ngikuti aktifitas kemsayarakat serta acara acara yang di adakan Kjri Pulau Pinang . Bentuk kegiatan yang paling rutin adalah setiap malam Jumaat  ngadakan bacaan Yasin bergilir gilir antara sesama anggota,inilah cara perwira untuk meng akrabkan hubungan sesama pekerja Indonesia di Wilayah utara Malaysia .




Wednesday, March 12, 2014

Warga Pulau Bawean di Malaysia Mau Pulang Menunggu Lapter Operasi

Media Bawean, 13 Maret 2014 
Beroperasinya lapangan terbang Pulau Bawean sudah ditunggu-tunggu oleh warganya, penantian cukup lama dari tahun ke tahun membuat kepercayaan terhadap keberadaan lapter kian sekedar janji tanpa bukti. Tak sedikit warga sudah merasa bosan mendengar atau membaca berita terkait lapangan terbang di Kabupaten Gresik, yang letaknya di Pulau Bawean.

Saiful Aiman asal Pulau Bawean di negeri jiran Malaysia, yang kini menjabat Wakil NU Cabang Istimewa Malaysia, mengungkapkan bahwa warga Bawean di Malaysia menunggu lapangan terbang beroperasi.
"Seringkali dalam acara perkumpulan dijadikan topik perbincangan antar warga, sampai kapan lapangan terbang dioperasikan. Sementara jawabannya belum ada kepastian, sehubungan kondisi pembangunan sudah lama tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,"katanya.
Menurutnya, lapangan terbang di Pulau Bawean termasuk solusi paling terbaik untuk mengatasi kondisi cuaca buruk yang sering melanda jalur transportasi laut  menghubungkan Gresik - Pulau Bawean.
"Sementara ini masih banyak warga Pulau Bawean di Malaysia masih enggan untuk pulang kampung sehubungan ketidakjelasan transportasi, diantara ketakutan dengan putusanya jalur transportasi sehingga tertahan untuk kembali, ataupun menunggu lama untuk berlayar sampai waktu berkunjung habis di Gresik,"terangnya.
Saiful Aiman optimis beroperasinya lapangan terbang di Pulau Bawean mempunyai prospek sangat cerah untuk kemajuan serta perkembangan perekonomian di kampungnya tercinta. Salah satu prospek menurutnya adalah pengembangan pariwisata, baik wisatawan domestik ataupun luar negeri akan ramai-ramai berkunjung.
"Potensi wisata Pulau Bawean terkesan mubadzir tanpa ada pengembangan sehubungan sulitnya akses keterjangkauan untuk berkunjung kesana. Jangankan orang luar, dari dalam sendiri sudah merasakan secara langsung ketika jalur transportasi laut terputus akibat cuaca buruk,"tegasnya.
"Pulau Bawean ingin maju, yach dioperasikan lapternya dong,"pungkas Ketua Hikma di Malaysia ketika dihubungi Media Bawean (kamis, 13/3/2014). (bst) 

Lapter Bawean Segera Beroperasi Tiket Disubsidi 2/3 Harga Normal

Media Bawean, 12 Maret 2014

Sebanyak 12 bandar udara baru, termasuk lapangan terbang Pulau Bawean di Kabupaten Gresik akan dioperasikan selama tahun 2014 ini dalam upaya mendorong pemerataan pembangunan dan membuka isolasi daerah di seluruh Indonesia. Seiring dengan hal itu, subsidi pemerintah untuk penerbangan perintis pun meningkat.

Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono mengungkapkan ”Pembangunan bandara berdimensi ekonomi, termasuk distribusi logistik, dan pemerataan pembangunan yang mencakup aksesibilitas transportasi. Sebisa mungkin bandara baru ini mendorong kepariwisataan,” ujarnya.

Wamenhub menambahkan, umumnya bandara-bandara baru tersebut menjadi lokasi layanan penerbangan perintis. Dalam hal ini, pemerintah merangsang tingkat keterisian pesawat dengan memberi subsidi kepada pengguna jasa. Anggaran subsidi juga ditingkatkan dari Rp 275 miliar tahun 2013 menjadi Rp 350 miliar tahun 2014 ini.

Polanya, dua pertiga dari harga tiket penerbangan ditanggung pemerintah. Itu berarti penumpang hanya membayar sepertiga harga tiket. Calon penumpang hanya membayar sepertiga dari harga tiket normal. Kelak, setelah tingkat keterisian sudah memadai, subsidi akan dicabut dengan mendorong sejumlah maskapai bersaing menerbangi bandara tersebut. (bst)