Showing posts with label Artis. Show all posts
Showing posts with label Artis. Show all posts

Saturday, August 15, 2009

Anak Warga Bawean Tampilkan Kercengan Di Acara Titian Kasih Untuk Peringati Hut Indonesia Dan Malaysia Yang Di Selenggarkan Permai




Warga Bawean memang berminat merantau kemana-mana baik di dalam negeri sendiri maupun ke manca negara.Pada tahun enam puluhan sudah ramai orang Bawean yang datang Singapura ,Malaysia dan Kismis Australia

Ini terbukti warga bawean yang tinggal di Malaysia sudah pada mempunyai anak yang gede-gede.
Saya juga sempat kaget pada acara Titian Kasih yang di Selenggarakan oleh Perhimpunan Masyarakat indonesia ( Permai) pembawa acara memanggil nama Bawean pada acara tersebut.

Rupa-rupanya anak-anak warga Bawean Di Malaysia di undang untuk tampil di acara Titian Kasih itu. Group Kercenganya terdiri dari anak-anak warga Bawean yang lahir di Malaysia
Saya sangat terharu dengan penampilan anak-anak warga Bawea itu dengan penampilan yang merip seperti kercengan orang Bawean.

Meskipun orang tuanya punya kesibukan tiap hari untuk bekerja namun anak-anaknya sangat giat untuk belajar berlatih kercengan.Ini terbukti dengan penampilan yang amat bagus dan juga gaya yang sangat meyakinkan.

Mereka selalau berlatih dengan tekun dan rajin dan tidak pernah kenal letih ,ungkap ketua kercengan yang tidak mahu di sebut namanya.

Grup kercengan yang di tampilkan di acara Titian Kasih yang di selenggarakan oleh Permai itu di anggotahi oleh 80 persen wanita dan 20 persen adalah lelaki,kesemuanya adalah anak warga Bawean yang lahir di Malaysia .






Friday, August 7, 2009

Album Mbah Surip Laris

TULUNGUGUNG -(radar tng) Kematian Mbah Surip, pelantun tembang Tak Gedong, pada Selasa (4/7) lalu, membawa berkah bagi sejumlah pedagang VCD.

Apalagi jika bukan kepingan cakram padat itu laris manis diburu pembeli. Sampai-sampai, mereka kehabisan stok VCD pria bernama lengkap Urip Arianto bin Soekojto tersebut.Seperti diungkapkan Jupriono, pedagang VCD di Pasar Ngemplak.

Sebelumnya, kata pria usia 33 tahun itu, dalam sehari VCD Mbah Surip laku 3 keping. Kemarin, yang terjual mencapai 25 keping. "Siapa yang menyangka Mbah Surip bakal meninggal dunia? Saya tidak punya VCD album Tak Gendong lagi, habis," ucapnya.

Jupriono menambahkan, pembeli tak pilih-pilih album yang sebenarnya diciptakan pada 2003 itu. Maksudnya, tak harus lagu versi original. Meskipun versi dangdut, asalkan ada Mbah Surip, dibeli. "Kebanyakan yang membeli anak-anak.

Harganya murah," katanya. Dia mengaku, hal sebelumnya juga terjadi saat kematian Michael Jackson. Begitu sang bintang pop dunia ini meninggal, album Jacko (sebutan Michael Jackson) diburu. "Kini terulang lagi," kata pedagang asli Ngunut ini.

Hal senada diungkapkan pedagang VCD lainya seperti Sugiono. Dalam sehari setidaknya dia menjual sekitar 20 keping VCD album Mbah Surip. Padahal, sebelum meninggal, album pria berambut gimbal itu rata-rata laku 10 keping sehari.

Kemungkinan, lanjut dia, album Mbah Surip akan diburu hingga seminggu ke depan. Untuk itu dia akan manambah stok album pria kelahiran Mojokerto tersebut. "Sudah wajar karena setiap penyanyi terkenal meninggal, albumnya laris," terang pedagang asal Kenayan ini. (c1)

Ken Zuraida: Saya Mencintai Mas Rendra


Jakarta : Ken Zuraida, istri seniman WS Rendra melepas jenazah suaminya sambil mengungkapkan perasaan cintanya kepada seniman yang dikenal dengan sebutan “Burung Merak”.

“Saya tidak patut menjadi guru di bengkel Teater. Sebagai istri saya kurang bekti (Berbakti). Aku cinta padamu…,” kata Ken yang terlihat terbata ketika diminta tampil untuk berbicara pada acara pelepasan jenazah almrhum WS Rendra sebelum disholatkan di Bengkel Teater, Citayam, Depok, Jawa Barat, Jumat [07/08].
Ken mengungkapkan dirinya merupakan asisten, murid, musuh, teman, pembantu dari seniman pendiri teater Indonesia, WS Rendra.

“Saya ingin mengajak putra-putri Bengkel Teater untuk melepas almarhum dengan lagu singgah-singgah,” katanya. Beberapa anggota Bengkel Teater kemudian berdiri dan menyanyikan lagu singgah-singgah yang berlirik bahasa Jawa Halus.

Para pelayat termasuk Putu Wijaya, budayawan Mudji Sutrisno, pelawak Tarzan, pimpinan RRI Parni Hadi dan Menbudpar Jero Wacik tertunduk dan terhanyut haru mendengarkan istri almarhum dan para personil Bengkel Teater menyanyikan lagu tersebut.

Tokoh pendidik, Arif Rahman kemudian memimpin doa untuk melepas kepergian almarhum WS Rendra, sebelum dibawa ke masjid di sebelah Bengkel Teater untuk disholatkan.

Berdampingan

Tempat makam budayawan dan penyair WS Rendra yang meninggal dunia, pada Kamis (6/8) malam sekitar pukul 21:30 WIB, tidak jauh dari makam Mbah Surip hanya sekira sepuluh meter.

“Tempatnya memang sudah dipersiapkan sejak lama. Rendra juga minta dimakamkan di bawah pohon rindang,” kata adik ipar WS Rendra, Iwan Burnani, ketika ditemui ANTARA, di rumah duka Bengkel Teater Rendra, di Depok, Jumat pagi. Selanjutnya dari kalangan artis tampak melayat antara lain Virgiawan Listianto atau yang lebih dikenal dengan Iwan Fals, dan Deddy Mizwar, dan lainnya.

Karangan bunga duka citapun menghiasi tempat Bengkel teater tersebut, seperti dari Dirut Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Parni Hadi, Keluarga Teater Alam Yogya, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, artis Connie Constantia, Forum Harmoni Nusantara, Jenderal (Purn) TNI Wiranto, dan Surabaya Community Sedhuluran Sampek Matek.

Menurut Iwan, Rendra telah dua bulan di rawat di rumah sakit akibat sakit jantung dan ginjal. WS Rendra sempat dirawat di RS Harapan Kita Jakarta kemudian juga sempat dirawat di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading.

Pada Selasa (4/8), kata Iwan, Rendra sudah dibolehkan pulang dan menginap di rumah Clara Shinta yang tidak jauh dari dari Rumah Sakit Mitra Keluarga Depok. Namun tiba-tiba penyakitnya kambuh dan dirawat di Rumah sakit Mitra Keluarga Depok, hingga menghembuskan nafas terakhirnya.

Budayawan Kehilangan

Budayawan dan seniman Bandung merasa kehilangan dan turut berbelasungkawa atas kepergian untuk selamanya WS Rendra (73) yang meninggal dunia, Kamis (6/8) di Jakarta.
“WS Rendra merupakan budayawan dan penyair yang hadir di setiap angkatan, karya-karyanya mudah dicerna masyarakat, oleh awam sekalipun,” kata Ketua Majelis Sastra Bandung, Mat Don kepada ANTARA, di Bandung, Jumat.

Kepergian Rendra, kata Mat Don, merupakan kehilangan besar buat sastra Indonesia. Ia merupakan salah satu penyair yang mamiliki karakter khas melalui syair-syair pedasnya yang langsung ‘menohok’.

“Salah satu ciri khasnya adalah, ia mengukir syair-syair pedas yang langsung pada persoalan, puisinya bisa dicerna siapapun. Itu kekuatannya,” kata penyair Kota Bandung itu.

Rendra, kata Mat Don, merupakan orang tua, guru dan teman bagi para penyair, seniman dan budayawan. Ia merupakan salah satu dari sekian banyak penyair yang cukup produktif dan tetap kritis dalam mengungkap fenomena di masyarakat Indonesia.

Sebagai penyair, katanya, ia mengaku sulit mengklasifikasikan sosok almarhum karena karya-karyanya selalu hadir dan mengikuti setiap angkatan. Syair-syair pedasnya, ujarnya, tidak hanya menyentil kebijakan pemerintah, namun juga menggugah masyarakat untuk bangkit bersama semangat syair-sairnya dalam melakukan perbaikan. “Rendra merupakan tipikan orang yang konsisten dan berjuang tanpa zeda untuk puisi dan sastra Indonesia, humanis dan enak diajak diskusi,” katanya.

Menurut Mat Don, sedianya Majelis Sastra Bandung, Agustus ini hendak mendatangkan dua sosok yang meninggal dunia dalam seminggu terakhir ini, WS Rendra dan Mbah Surip.

“Kami sudah merancang acara untuk kedua orang itu pada Agustus ini. Namun untuk Rendra memang kami dapat konfirmasi kesehatannya kurang mendukung. Ternyata memang keduanya tak bisa hadir karena menghadap Illahi,” kata penyair yang telah melahirkan buku kumpulan puisi “Persetubuhan Batin” dan “Penyair Anjing” itu.

Rencananya untuk mengenang dua sosok fenomenal itu, Majelis Sastra Bandung akan menggelar doa bersama untuk Alm WS Rendra dan Alm. Mbah Surip pada Minggu (9/8) dalam Pengajian Majelis Sastra Bandung di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). ( ant )

In Memoriam WS Rendra

Jakarta (ant) - Jika Ceko mempunyai Vaclav Havel dan Chile memiliki Pablo Neruda, maka Indonesia juga dihuni para pujangga yang mungkin sekaliber dengan keduanya dalam memotori bangkitnya kesadaran nasional dan mendedikasikan hidup untuk memberi jiwa pada masyarakat kering etik dan senjang nurani.

Seorang yang mungkin terbesar diantara itu adalah penyair dan dramawan besar kelahiran Solo, 7 November 1935, Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal dengan nama WS Rendra.

Si Burung Merak
, demikian dia diakrabi banyak orang, menghentakkan puisi-puisi penuh nilai dan moral serta berenergi dalam membangunkan negeri ini dari tidur pulas karena dipeluk materialisme, ketidakpedulian dan pengabaian, sekaligus menegakkan jiwa-jiwa lunglai karena bekapan tirani, penyimpangan dan kesewenang-wenangan.

Penyair yang pernah dimiliki Indonesia ini telah meninggalkan dunia untuk selamanya, tetapi puisi-puisi dan semua karya sastranya, larut abadi di setiap generasi setelahnya. Itu karena puisi-puisi hebat--tentu termasuk karya Rendra-- selalu abadi.

Para sastrawan percaya bahwa puisi mempunyai kekuatan mengangkat pikiran manusiawi biasa menjadi sebuah realitas yang lebih menggenapkan dan kreatif. Puisi-puisi terbaik bahkan memanggul kekuatan yang membuat manusia memahami akalnya, jauh di luar untaian kata tersurat.

"Tidak ada fakultas ilahiah lain yang mempunyai kekuatan transendental terbesar melebihi batas-batas yang tak berbatas (selain puisi)," kata filsuf dan guru spiritual India, Sri Chinmoy.

Puisi membuat kita bisa sangat merasakan bahwa itu mengekspresikan hasrat dan pengalaman hidup terdalam kita, kendati untuk mencapai taraf ini kita mesti manunggal dengan puisi dan larut dalam syair puisi.

Inilah yang mungkin membuat sajak-sajak WS Rendra menyihir siapapun, membangkitkan kesadaran kritis dan mendorong kaki kita melangkah, tangan kita meraih dan dahi kita mengernyit, memikirkan kehidupan, termasuk pada medan-medan peka seperti kekuasaan dan politik. Terlebih puisi acap bertutur tentang kritik dan politik.

"Tema puisi itu kehidupan, dan politik adalah bagian dari kehidupan. Puisi ditulis seperti politik dimengerti," kata penyair Inggris keturunan Hongaria, George Szirtes.

Perempuan jurnalis dan penulis Palestina, Lamyaa Hashim, menyebut kekuatan puisi dan karya sastra melebihi kritik politisi dan mengangkangi dahsyatnya tembakan meriam. "Perang terabadikan oleh stanza-stanza. Patriotisme atau kekerabatan menebal (karena puisi)," kata Lamyaa.

Tak heran, penguasa, tiran dan penjajah kerap lebih mencemaskan berondongan kata bersanjak ketimbang umpatan sarkastis dan parade senjata.

Israel misalnya, sangat takut murid-murid Palestina di wilayahnya menulis dan mempelajari puisi karya penyair Palestina, termasuk karya pujangga termasyur Palestina, Mahmoud Darwish.

Saw Wai, pujangga Myanmar misalnya, dipenjarakan dua tahun gara-gara menerbitkan puisi delapan bait berisi pesan tersembunyi yang menyebut penguasa tertinggi negeri itu, Jenderal Than Shwe, sebagai jenderal haus kekuasaan.

Puisi-puisi dan karya-karya sastra WS Rendra juga kerap menebarkan kengerian dan ketakutan dari penguasa serupa itu, terutama semasa Orde Baru menitahi Indonesia.

Banyak penyair --seperti juga WS Rendra, Pablo Neruda, Simin Behbahani dari Iran, Wole Soyinka dari Nigeria dan Nurmuhemmet Yasin dari Uighur China -- pernah berurusan dengan polisi, bui dan penjara. Tak sedikit pula yang terpaksa menutup lembaran hidupnya di tangan aparat dan penguasa yang lalim.

Dan seperti sastrawan pembaru lainnya, tidak hanya dipenjara, beberapa karya drama Rendra juga sempat dilarang oleh penguasa, diantaranya "Mastodon dan Burung Kondor."

Sungguh semua perjalanan itu telah dilalui sang ikon sastra Indonesia kontemporer WS Rendra, tapi sungguh semua cemoohan dan siksaan itu tidak membuatnya mengakhiri berkarya, melembutkan kata tajamnya, dan menumpulkan pikiran kritisnya.

Lewat puisi, Rendra mengakrabi kehidupan, bercengkerama dengan Sang Pencipta, mengekspresikan kasih, tegak mendampingi mereka yang tertindas dan terpinggirkan seperti tergambar pada puisi "Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta" dan "Pesan Pencopet Kepada Pacarnya."

Bahkan, di tengah deraan sakit, Rendra mencipta puisi rindunya pada Sang Ilahi, seperti dimuat Kompas.com. Bait-bait terakhir puisi itu berbunyi,

Aku ingin kembali pada jalan alam
Aku ingin meningkatkan pengabdian kepada Allah
Tuhan, aku cinta padaMu

Tampak sudah, sepanjang hidupnya, Rendra bernyanyi, mencinta, menangis, mengecam, mengkritik dan berdoa dengan puisi.

Puisi karya penyair Taufik Ismail yang menjadi lirik salah satu lagu Bimbo berikut bisa merangkumkan kehidupan Rendra.

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Di batas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang
Keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris

Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
. (*)

Perginya Budayawan Dan Penyair Besar Indonesia

Jakarta (ant) - Setelah dirawat karena menderita serangan jantung koroner, budayawan dan penyair besar Indonesia WS Rendra wafat pada usia ke-74 di Rumah Sakit Mitra Keluarga, Depok, Jawa Barat.

Pendiri Bengkel Teater yang termasyur itu dikenal sebagai seniman serba bisa, tidak hanya budayawan terkemuka nasional, penyair dan dramawan besar, namun juga seorang aktor.

Disutradarai Sjuman Djaya, dan berpasangan dengan aktris Yati Octavia, pada 1977, Rendra pernah membintangi film remaja "Yang Muda Yang Bercinta," namun kemudian dilarang beredar karena tujuan-tujuan politis saat itu.

Dalam salah satu penampilan puisi terkenalnya pada Mei 1998, di ruang gedung DPR RI semasa awal reformasi, almarhum berorasi dengan membacakan puisi karya aktivis dan penyair Wiji Thukul yang kesohor, "Hanya ada satu kata, Lawan!"

Jauh sebelum itu, pada 1990an, bersama para seniman dan musisi seperti Iwan Fals, Setiawan Jodi, Sawung Jabo, dan lainnya, Rendra menggelar konser Kantata Takwa yang fenomenal dan mengusik rezim Orde Baru saat itu, diantaranya dengan menggelegarkan lagu "Bento" yang penuh kritik.

Di luar kehidupan rumah tangganya yang ramai oleh perhatian media, Rendra mungkin merupakan salah seorang sastrawan Indonesia paling berpengaruh tidak hanya pada dunia seni dan sastra nasional kontemporer, namun juga pada pergerakan sosial dan politik Indonesia pada empat dekade terakhir.

Lahir pada 7 November 1935 di kota Solo, Jawa Tengah, Rendra yang juga cerpenis ini pernah berkuliah pada Jurusan Sastra Inggris, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, setelah sebelumnya menamatkan SD sampai SMA di St. Yosef, Solo, pada 1955.

Pada 1964, dia memperoleh beasiswa dari American Academy of Dramatical Art, sampai selesai menempuhnya pada 1967.

Salah seorang ikon sastra nasional yang dikenal dengan sebutan "Si Burung Merak" ini terlahir dari pasangan Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah, dengan nama Willibrordus Surendra Broto Rendra.

Sejak masa remaja, Rendra sudah terbiasa menulis naskah drama sampai kemudian menjadi salah seorang dramawan besar Tanah Air, namun dikenal sebagai sastrawan independen dan memiliki ciri khasnya sendiri.

Oleh karena itu, mengutip Prof. A. Teeuw dalam "Sastra Indonesia Modern II (1989)" seperti ditulis Wikipedia Indonesia, Rendra tidak termasuk pada satu pun angkatan sastrawan Indonesia, baik Angkatan 45, Angkatan 60an ataupun Angkatan 70an.

Rendra menikah tiga kali dengan tiga perempuan berbeda. Pertama pada 31 Maret 1959 dengan Sunarti Suwandi yang darinya dia dikarunia lima anak, yaitu Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa dan Klara Sinta.

Kedua, pada 12 Agustus 1970, dia menikahi murid seninya yang juga keturunan Keraton Yogyakarta, Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Dari Sitoresmi, Rendra dikaruniai Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

Terakhir, Rendra menikahi Ken Zuraida, hingga kemudian dikarunia Isaias Sadewa dan Maryam Supraba. Pada 1979 dan kemudian pada 1981, Rendra berturut-turut menceraikan Sitoresmi dan Sunarti.

Diantara belasan naskah drama terkenalnya adalah "Orang-orang di Tikungan Jalan," "Panembahan Reso," dan "Kasidah Barzani." Rendra juga menulis banyak puisi dan sajak, diantaranya yang terkenal adalah "Nyanyian Angsa" dan "Sajak Rajawali."

Rendra juga beberapa kali memperoleh penghargaan sastra, diantaranya yang prestisius adalah Penghargaan Adam Malik pada 1989, S.E.A. Write Award pada 1996, dan Penghargaan Achmad Bakri pada 2006. (*)

Tuesday, August 4, 2009

Presiden Ucapkan Belasungkawa Untuk Mbah Surip

Jakarta, (ant) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya Mbah Surip dan mengharapkan semangat berkesenian Mbah Surip bisa terus dilanjutkan.

"Saya mendengar Mbah Surip meninggal dunia dan saya ikut berbelasungkawa dan mendoakan semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan sesuai amal baktinya," kata Presiden dalam Jumpa Pers di halaman kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa.

Menurut Presiden, Mbah Surip yang meninggal di usia 60 tahun adalah seniman yang hidup dengan sederhana dan mencurahkan hidupnya dalam berkesenian sesuai caranya sendiri.

"Saya harapkan paguyuban musik dan Pemda membantu pemakaman Beliau," katanya.Menurut Presiden, sosok seperti Mbah Surip ini bisa memberikan pelajaran berharga dalam semangat menekuni bidang tertentu seperti di bidang kesenian.

Mbah Surip, penyanyi lagu fenomenal "Tak Gendong" itu meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Pusat Pendidikan Kesehatan (Pusdikkes), Kramat Jati Jakarta Timur, pada Selasa sekitar pukul 10:30 WIB.

Setibanya di RS Pusdikkes Jakarta Timur, penyanyi beraliran Reggae ala Bob Marley itu tidak tertolong lagi oleh para dokter yang menanganinya. Mbah Surip memiliki nama lengkap Urip Ariyanto, lahir di Mojokerto, Jawa Timur, 5 Mei 1949 merupakan penyanyi beraliran Reggae.(*)

Mba Urip Tutup Usia


Mungkin kita masih ingat dengan lagu,"tak gendong" kaman-mana..inilah lagu Mba Surip yang paling di minati oleh kanak -kanak .
Mba urip yang populer dengan lagu ,"tak gendong "kemana-mana menutup usia hari ini selasa 4/8/ siang .
Selamat jalan Mba Urip semuga mendapat tempat yang selayaknya

Berita Terkait Kematian Mb Urip.

Liputan6.com, Jakarta: Kuat dugaan penyebab Urip Ariyanto atau akrab disapa Mbah Surip meninggal karena kelelahan.
"Mungkin pola makan yang tidak teratur sementara jadwal si mbah ini yang begitu padat," jelas Al Moenir Rahmat, produser eksekutif Playlist SCTV saat dihubungi lewat telepon di rumah pelawak Mamiek Prakoso di Kampung Makassar, Jakarta Timur, Selasa (4/8) siang.
Penjelasan Moenir berdasarkan surat visum RS Pusat Pendidikan Kesehatan Angkatan Darat (Pusdikkes) Kramat Jati, Jakarta Timur yang dipegangnya. Beredar kabar terakhir Mbah Surip berbonceng sepeda motor bersama Mamiek.
Moenir membantah kejadian itu menjadi penyebab kematian pelantun "Tak Gendong" ini. "Perut saja mual-mual," tambah Moenir.
Mbah Surip meninggalkan empat orang anak dan empat cucu.Mbah Surip meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Pusdikkes, pagi tadi sekitar pukul 10.30 WIB.
Sebelum dibawa ke rumah sakit kabarnya Mbah Surip sempat dibawa ke rumah Mamiek. Hingga kini pria kelahiran Mojokerto, Jawa Tengah, 6 Mei 1949 ini belum diketahui akan dimakamkan di mana [baca: Mbah Surip Meninggal Dalam Perjalanan ke RS].
Penyanyi fenomenal, Mbah Surip mengembuskan napas terakhir di saat popularitasnya melambung dengan hits "Tak Gendong". Lagu ini akrab di telinga anak-anak hingga orang dewasa.
Almarhum mudah dikenal dengan penampilannya bergaya regae--sebuah aliran musik asal Jamaika. Surip sempat mengaku bukan penggemar tokoh regae, Bob Marley.(AIS/DIO)