Sebanyak 100 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia mungkin akan pulang lebih awal dari kontraknya semula karena terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) menyusul krisis global yang menekan dunia usaha di Malaysia.
Namun, menurut Menakertrans Erman Suparno dalam siaran persnya, Jumat, jumlah 100 ribu TKI yang akan dipulangkan itu masih angka prediksi. Saat ini sekitar 300 ribu orang TKI berkerja di sektor manufaktur Malaysia.
"Jumlah tersebut bisa berubah, tergantung pada jadwal dan kondisi masing-masing perusahaan," kata Erman.
Dalam pertemuan Dubes RI untuk Malaysia dengan Asosiasi Manufaktur Malaysia, terungkap bahwa sebanyak 100 ribu TKI pada industri manufaktur sangat mungkin terpaksa dipulangkan ke Indonesia.Keputusan itu dilakukan mengingat krisis global telah menekan ekonomi Malaysia dimana permintaan barang produksi turun 30-35%.
Prediksi ini pernah disampaikan Menteri Sumber Daya Manusia Malaysia kepada Menakertra
ns.Faktanya, lanjut Erman, pemerintah telah dilapori bahwa sekitar 10 ribu TKI yang bekerja pada sektor tersebut telah diPHK dan mereka sudah dipulangkan ke Indonesia secara bertahap.
Indonesia sejauh ini berhasil menegosiasikan hak-hak TK yang diPHK dipenuhi perusahaan, bahkan perusahaan Malaysia bisa membantu biaya transportasi mereka untuk kembali ke tanah air."Depnakertrans terus berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri dan Dubes RI untuk Malaysia untuk mengantisipasi dan merespon pemulangan tersebut," kata Erman. (* sumber antara)
Thursday, February 5, 2009
Wednesday, February 4, 2009
Pemberitahuan Pada Warga Bawean Di Malaysia (Khusus Pemuda Dan Mahasiswa Bawean Di Malaysia )
Kuala Lumpur : 04 / 02 / 2009
Assalamualaikum WB
Kepada sahab-sahabat warga Bawean yang merantau ke negara tetangga ini marilah kita bergabung dengan membentuk Ikatan Pemuda Bawean Rantau Malaysia (IKPBRM).
Jika teman-teman (thogelan ) semua ,kalau ingin bergabung bersama," membentuk IKPBRM tolong menghantar Email ",pada saya dan memberikan alamat tempat tinggal di Malaysia serta nomer Hp lewat email saya :yaitu sfl_aimn@yahoo.com
Insya Allah jika di izinkan Tuhan kita masyarakat Bawean akan membentuk IKPBRM sesudah pelaksanaan pesta demokrasi negara tercinta kita.
Semuga thogelan semua di rantau ini dapat menjalankan aktivitas dan selalu di lindungi Allah.
Wassalam
Epung Komalasa
Assalamualaikum WB
Kepada sahab-sahabat warga Bawean yang merantau ke negara tetangga ini marilah kita bergabung dengan membentuk Ikatan Pemuda Bawean Rantau Malaysia (IKPBRM).
Jika teman-teman (thogelan ) semua ,kalau ingin bergabung bersama," membentuk IKPBRM tolong menghantar Email ",pada saya dan memberikan alamat tempat tinggal di Malaysia serta nomer Hp lewat email saya :yaitu sfl_aimn@yahoo.com
Insya Allah jika di izinkan Tuhan kita masyarakat Bawean akan membentuk IKPBRM sesudah pelaksanaan pesta demokrasi negara tercinta kita.
Semuga thogelan semua di rantau ini dapat menjalankan aktivitas dan selalu di lindungi Allah.
Wassalam
Epung Komalasa
Anak-anak TKI di Sabah Kini Bisa Nyanyi "Indonesia Raya"
Oleh Adi Lazuardi
Kuala Lumpur - Mengharukan juga melihat dan mendengar anak-anak kelas 3 SD Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dan "Garuda Pancasila" sebelum mereka memulai belajar.
"Inilah cara kami mengenalkan Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta pada diri anak-anak TKI di Sabah terhadap negara tercinta, Indonesia," kata Dadang Hermawan, Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, Borneo.
Sekitar 80 persen, anak-anak TKI yang sekolah di SIKK lahir di Sabah. Mereka kurang mengenal Indonesia. Lahir karena orang tua mereka adalah buruh perkebunan kelapa sawit. Anak-anak TKI itu tumbuh dan besar di negeri orang tanpa bisa mengecap pendidikan formal seperti umumnya anak-anak Indonesia di tanah air dan anak-anak warga Malaysia.
"Tidak betul juga jika dikatakan anak-anak TKI tidak bisa belajar di sekolah Malaysia. Yang dilarang adalah sekolah kebangsaan karena itu ada subsidinya. Anak warga asing seharusnya sekolah di swasta atau sekolah internasional," kata atase pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Imran Hanafi.
"Di sinilah persoalannya, orang tuanya berprofesi sebagai TKI tidak mampu membayar sekolah swasta apalagi sekolah internasional sehingga ribuan anak-anak TKI bisa mengecap pendidikan formal," tambah dia.
Ditambah lagi, peraturan imigrasi Malaysia melarang pekerja asing membawa anggota keluarganya, baik anak dan istri, termasuk dilarang kawin.
Namun kenyataannya, TKI yang bekerja di Sabah, apakah itu menjadi buruh perkebunan kelapa sawit atau menjadi pembantu, membawa keluarganya. Para majikannya tampaknya mengijinkan hal itu demi kenyamanan dan loyalitas kerja para buruhnya.
Menurut data KJRI Kota Kinabalu tahun 2006, ada sekitar 24.199 anak-anak TKI di Sabah tidak bisa mendapatkan pendidikan. Karena saat itu yang dicatat hanya anak-anak usia sekolah maka pada tahun 2008, diperkirakan 30.000 anak-anak TKI yang tidak mengecap pendidikan formal.
Hambatan Sekolah
Masalah buruh di perkebunan kelapa sawit untuk tidak boleh kawin dan membawa keluarga menjadi suatu dilema. Aturan imigrasi Malaysia memang buruh asing dilarang kawin dan membawa keluarganya, kecuali ekspatriat.
Hal itu diakui Manajer SDM Sabah Land Development Board (SDLB) Syaheddrul Joddari. "Kami punya buruh laki-laki dan wanita. Walaupun kami selalu melarang mereka kawin, tapi yang namanya cinta sulit dicegah. Perkawinan baik resmi atau tidak terjadi di perkebunan hingga mereka punya anak," katanya.
Melihat ada buruh yang kawin, punya istri dan anak sudah tentu mendorong buruh yang punya istri di kampung untuk membawa keluarganya ke Sabah. Hal ini berlangsung sekian lama sehingga ribuan anak-anak buruh perkebunan kelapa sawit kini tidak bisa mengecap pendidikan formal. Apalagi setelah ada revisi UU Pendidikan di Malaysia yang mendiskriminasi anak buruh asing bersekolah di sekolah milik pemerintah karena ada unsur subsidinya.
"Bagi majikan dan perusahaan perkebunan, ada keluarga buruh menciptakan kenyamanan kerja bagi si buruh. Jika nyaman maka loyalitas kerja juga bagus. Selain itu, anak-anak dan istri buruh juga bisa sekaligus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Apalagi anak-anak buruh tidak bersekolah maka bekerja di perkebunan kelapa sawit selain menambah penghasilan juga kegiatan yang baik untuk membunuh waktu," kata konsuler bidang ketenagakerjaan KJRI Kota Kinabalu, Umbara Setiawan.
Anak tidak bisa sekolah sudah tentu akan menambah panjang kemiskinan keluarga buruh. Pemerintah Indonesia dan Malaysia dibantu LSM Humana berbasis di Eropa mencoba mengadakan sekolah informal. Anak-anak TKI dan buruh Filipina diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Tidak ada jenjang kelas. Yang penting bisa membaca, menulis dan berhitung.
Pemerintah Malaysia juga sudah meminta perusahaan perkebunan secara sukarela menyediakan gedung sekolah informal. Kini ada sekitar 90 gedung sekolah informal yang dikelola Humana dengan jumlah murid sekitar 7.000 orang. Sejak tahun 2007, Indonesia telah mengirimkan 109 guru.
Tapi upaya pemerintah Indonesia tidak cukup sampai di situ saja. Atas dasar hubungan baik kedua negara, kedua kepala pemerintahan sepakat untuk mengijinkan adanya sekolah Indonesia di Kota Kinabalu bagi anak-anak TKI.
Sudah Operasi
Sekolah Indonesia Kota Kinabalu beroperasi sejak 1 Desember 2008 dengan jumlah 274 murid sekolah dasar (SD). SIKK memiliki enam ruang kelas di kompleks pertokoan Alam Mesra, Kota Kinabalu.
Dengan enam kelas, SIKK ini dapat menampung 326 anak TKI, tapi kini baru menampung 274 anak karena baru empat guru termasuk kepala sekolah ikut mengajar. "Dalam waktu dekat akan ada empat guru tambahan lagi datang dari Indonesia," kata Dadang Hermawan.
"Agar dapat memberikan pendidikan yang lebih luas kepada anak-anak TKI, SIKK akan mengadakan pendidikan non formal melalui paket A, paket B dan paket C, " tambah dia.
Untuk tahun pertama, seluruh anak-anak SIKK diberikan seragam baru "Merah Putih" dan buku-buku pelajaran. "Mereka sangat antusias dalam belajar. Masuk pukul tujuh tapi pukul 6 banyak yang sudah tiba di sekolah. Itu artinya mereka sudah meninggalkan rumah ke sekolah jam 05 pagi," ungkap Dadang.
Orang tua murid, Edijatmiko, asal Malang mengaku sangat senang ada sekolah Indonesia di Kota Kinabalu karena kini anaknya bisa mendapatkan pendidikan informal. "Selama ini, anak-anak kami hanya sekolah seperti madrasah di kampung. Tidak bisa masuk ke sekolah formal," katanya.
Menurut data KJRI, ada 576 anak TKI yang ingin sekolah di SIKK. Tapi setelah diadakan seleksi dan evaluasi hanya 274 yang bisa masuk sekolah formal. "Banyak anak-anak TKI di usia 11 tahun tapi belum bisa baca. Terpaksa kami tidak bisa terima," kata Kepsek SIKK Dadang.
Nabila, murid kelas I SIKK, mengaku senang bisa sekolah di SIKK. "Teman-teman juga senang bisa memakai seragam merah putih, seragam sekolah Indonesia. Saya kini sudah hafal lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila," katanya sambil tersenyum. (*)
Kuala Lumpur - Mengharukan juga melihat dan mendengar anak-anak kelas 3 SD Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK) menyanyikan lagu "Indonesia Raya" dan "Garuda Pancasila" sebelum mereka memulai belajar.
"Inilah cara kami mengenalkan Indonesia dan menumbuhkan rasa cinta pada diri anak-anak TKI di Sabah terhadap negara tercinta, Indonesia," kata Dadang Hermawan, Kepala Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, Borneo.
Sekitar 80 persen, anak-anak TKI yang sekolah di SIKK lahir di Sabah. Mereka kurang mengenal Indonesia. Lahir karena orang tua mereka adalah buruh perkebunan kelapa sawit. Anak-anak TKI itu tumbuh dan besar di negeri orang tanpa bisa mengecap pendidikan formal seperti umumnya anak-anak Indonesia di tanah air dan anak-anak warga Malaysia.
"Tidak betul juga jika dikatakan anak-anak TKI tidak bisa belajar di sekolah Malaysia. Yang dilarang adalah sekolah kebangsaan karena itu ada subsidinya. Anak warga asing seharusnya sekolah di swasta atau sekolah internasional," kata atase pendidikan KBRI Kuala Lumpur, Imran Hanafi.
"Di sinilah persoalannya, orang tuanya berprofesi sebagai TKI tidak mampu membayar sekolah swasta apalagi sekolah internasional sehingga ribuan anak-anak TKI bisa mengecap pendidikan formal," tambah dia.
Ditambah lagi, peraturan imigrasi Malaysia melarang pekerja asing membawa anggota keluarganya, baik anak dan istri, termasuk dilarang kawin.
Namun kenyataannya, TKI yang bekerja di Sabah, apakah itu menjadi buruh perkebunan kelapa sawit atau menjadi pembantu, membawa keluarganya. Para majikannya tampaknya mengijinkan hal itu demi kenyamanan dan loyalitas kerja para buruhnya.
Menurut data KJRI Kota Kinabalu tahun 2006, ada sekitar 24.199 anak-anak TKI di Sabah tidak bisa mendapatkan pendidikan. Karena saat itu yang dicatat hanya anak-anak usia sekolah maka pada tahun 2008, diperkirakan 30.000 anak-anak TKI yang tidak mengecap pendidikan formal.
Hambatan Sekolah
Masalah buruh di perkebunan kelapa sawit untuk tidak boleh kawin dan membawa keluarga menjadi suatu dilema. Aturan imigrasi Malaysia memang buruh asing dilarang kawin dan membawa keluarganya, kecuali ekspatriat.
Hal itu diakui Manajer SDM Sabah Land Development Board (SDLB) Syaheddrul Joddari. "Kami punya buruh laki-laki dan wanita. Walaupun kami selalu melarang mereka kawin, tapi yang namanya cinta sulit dicegah. Perkawinan baik resmi atau tidak terjadi di perkebunan hingga mereka punya anak," katanya.
Melihat ada buruh yang kawin, punya istri dan anak sudah tentu mendorong buruh yang punya istri di kampung untuk membawa keluarganya ke Sabah. Hal ini berlangsung sekian lama sehingga ribuan anak-anak buruh perkebunan kelapa sawit kini tidak bisa mengecap pendidikan formal. Apalagi setelah ada revisi UU Pendidikan di Malaysia yang mendiskriminasi anak buruh asing bersekolah di sekolah milik pemerintah karena ada unsur subsidinya.
"Bagi majikan dan perusahaan perkebunan, ada keluarga buruh menciptakan kenyamanan kerja bagi si buruh. Jika nyaman maka loyalitas kerja juga bagus. Selain itu, anak-anak dan istri buruh juga bisa sekaligus bekerja untuk menambah penghasilan keluarga. Apalagi anak-anak buruh tidak bersekolah maka bekerja di perkebunan kelapa sawit selain menambah penghasilan juga kegiatan yang baik untuk membunuh waktu," kata konsuler bidang ketenagakerjaan KJRI Kota Kinabalu, Umbara Setiawan.
Anak tidak bisa sekolah sudah tentu akan menambah panjang kemiskinan keluarga buruh. Pemerintah Indonesia dan Malaysia dibantu LSM Humana berbasis di Eropa mencoba mengadakan sekolah informal. Anak-anak TKI dan buruh Filipina diajarkan membaca, menulis, dan berhitung. Tidak ada jenjang kelas. Yang penting bisa membaca, menulis dan berhitung.
Pemerintah Malaysia juga sudah meminta perusahaan perkebunan secara sukarela menyediakan gedung sekolah informal. Kini ada sekitar 90 gedung sekolah informal yang dikelola Humana dengan jumlah murid sekitar 7.000 orang. Sejak tahun 2007, Indonesia telah mengirimkan 109 guru.
Tapi upaya pemerintah Indonesia tidak cukup sampai di situ saja. Atas dasar hubungan baik kedua negara, kedua kepala pemerintahan sepakat untuk mengijinkan adanya sekolah Indonesia di Kota Kinabalu bagi anak-anak TKI.
Sudah Operasi
Sekolah Indonesia Kota Kinabalu beroperasi sejak 1 Desember 2008 dengan jumlah 274 murid sekolah dasar (SD). SIKK memiliki enam ruang kelas di kompleks pertokoan Alam Mesra, Kota Kinabalu.
Dengan enam kelas, SIKK ini dapat menampung 326 anak TKI, tapi kini baru menampung 274 anak karena baru empat guru termasuk kepala sekolah ikut mengajar. "Dalam waktu dekat akan ada empat guru tambahan lagi datang dari Indonesia," kata Dadang Hermawan.
"Agar dapat memberikan pendidikan yang lebih luas kepada anak-anak TKI, SIKK akan mengadakan pendidikan non formal melalui paket A, paket B dan paket C, " tambah dia.
Untuk tahun pertama, seluruh anak-anak SIKK diberikan seragam baru "Merah Putih" dan buku-buku pelajaran. "Mereka sangat antusias dalam belajar. Masuk pukul tujuh tapi pukul 6 banyak yang sudah tiba di sekolah. Itu artinya mereka sudah meninggalkan rumah ke sekolah jam 05 pagi," ungkap Dadang.
Orang tua murid, Edijatmiko, asal Malang mengaku sangat senang ada sekolah Indonesia di Kota Kinabalu karena kini anaknya bisa mendapatkan pendidikan informal. "Selama ini, anak-anak kami hanya sekolah seperti madrasah di kampung. Tidak bisa masuk ke sekolah formal," katanya.
Menurut data KJRI, ada 576 anak TKI yang ingin sekolah di SIKK. Tapi setelah diadakan seleksi dan evaluasi hanya 274 yang bisa masuk sekolah formal. "Banyak anak-anak TKI di usia 11 tahun tapi belum bisa baca. Terpaksa kami tidak bisa terima," kata Kepsek SIKK Dadang.
Nabila, murid kelas I SIKK, mengaku senang bisa sekolah di SIKK. "Teman-teman juga senang bisa memakai seragam merah putih, seragam sekolah Indonesia. Saya kini sudah hafal lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila," katanya sambil tersenyum. (*)
Monday, February 2, 2009
Santai Di Mcdonanalds Pandan Indah,Sambil Membahas Buletin Bawean
di sore hari tanggal 2/2/09 saya bersama teman-teman pemuda Bawean di Malaysia lagi nyantai dan sambil ngobrol-ngobral tentang bagaimana kalau kita bikin Buletin Bawean.
Idea untuk Buletin Bawean datangnya dari saudara Sakdallah ,mahasiswa asala Kumalabaru yang sekarang menekuni jurusan PH.D dalam bidang psikologi di UKM kajang Selangor Malaysia.
Saya bersama Sakdallah ,Hasan Jali Mahasiswa Bawean yang lagi kulia di UM dan juga jadi guru di sekolah Internasional Kuala Lumpur Malaysia.Hasan dan Sakdallah sangat mendukung sekiranyan Buletin Bawean di terbitkan di Malaysia.
Mengingat warga Bawean yang ada di Malaysia tidak semua bisa mengakses internet.jika Buletin Bawean dapat di terbitkan di Malaysia ,sekurang-kurangnya warga Bawean di Malaysia bisa mengatahui sikon Bawean dari masa ke masa.
Hal ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan Editor media Bawean (MB),karena Buletin Bawean yang di wacanakan tersebut ,akan di ambil pemberitaanya dari Media Bawean.
Saya berpendapat Buletin Bawean yang akan di terbitkan nanti 1 bulan sekali,sekiranya Bulatan Bawean ramai peminatnya bisa di terbitkan 2 minggu sekali.
Cara marketingnya, akan di jual langsung kepada warga Bawean yang bekerja dan Tinggal di Malaysia.Dan saya akan segera menghubungi saudara Basit minta persetujuan beliau.Sekiranya beliau bersetujuh tinggal bagaimana nanti tehnisnya , saya bersama-sama pemuda Bawean Malaysia akan membuat permohonan secara resmi dengan pengasas Media Bawean ,yaitu saudara Basit.
Jika teralisasi ini bisa menjadi kebanggaan Warga Bawean di Malaysia,dan ini bisa di mumfaatkan untuk membesarkan Media Bawean khususnya.
Idea untuk Buletin Bawean datangnya dari saudara Sakdallah ,mahasiswa asala Kumalabaru yang sekarang menekuni jurusan PH.D dalam bidang psikologi di UKM kajang Selangor Malaysia.
Saya bersama Sakdallah ,Hasan Jali Mahasiswa Bawean yang lagi kulia di UM dan juga jadi guru di sekolah Internasional Kuala Lumpur Malaysia.Hasan dan Sakdallah sangat mendukung sekiranyan Buletin Bawean di terbitkan di Malaysia.
Mengingat warga Bawean yang ada di Malaysia tidak semua bisa mengakses internet.jika Buletin Bawean dapat di terbitkan di Malaysia ,sekurang-kurangnya warga Bawean di Malaysia bisa mengatahui sikon Bawean dari masa ke masa.
Hal ini akan saya bicarakan terlebih dahulu dengan Editor media Bawean (MB),karena Buletin Bawean yang di wacanakan tersebut ,akan di ambil pemberitaanya dari Media Bawean.
Saya berpendapat Buletin Bawean yang akan di terbitkan nanti 1 bulan sekali,sekiranya Bulatan Bawean ramai peminatnya bisa di terbitkan 2 minggu sekali.
Cara marketingnya, akan di jual langsung kepada warga Bawean yang bekerja dan Tinggal di Malaysia.Dan saya akan segera menghubungi saudara Basit minta persetujuan beliau.Sekiranya beliau bersetujuh tinggal bagaimana nanti tehnisnya , saya bersama-sama pemuda Bawean Malaysia akan membuat permohonan secara resmi dengan pengasas Media Bawean ,yaitu saudara Basit.
Jika teralisasi ini bisa menjadi kebanggaan Warga Bawean di Malaysia,dan ini bisa di mumfaatkan untuk membesarkan Media Bawean khususnya.
Sunday, February 1, 2009
Nu Malaysia Akan mengadakan Pengajian Akbar,Sekalian Pelantikan Pengurus Baru.
Nahdlatul Ulama cabang istimewa Malaysia akan mengadakan pelantikan ke pengurusan untuk preoda 2008-2011. Pelantikan NUCIM akan di selenggarakan pada hari sabtu 07/02/09 ,08.30 malam di Halaman Dewan Orang Ramai No ,45 Blok 5 Kampung Melayu Wiradamai Batu Caves Selangor..
Dalam pelantikan tersebut juga akan diadakan pengajian akbar yang akan di sampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Indonesia ,KH .Hasyim Muzadi .
Menurut ketua panitia pelantikan persiapa sudah hampir 80 persen ,Insya Allah sesuai dengan jadwal akan berjalan dengan mulus,kata Saudara Lasip
Apa bilah saya tanya dengan saudara Lasip kenapa pelantikan Nucim di adakan di Wiradamai,karena wiradamai adalah tempat yang sangat strategis untuk bisa warga Nahdliyen di Malaysia menghadiri acara pelantikan itu.
Tempat pelantikan Nucim yang akan di adakan itu,sangat memungkinkan dapat di jangkau oleh warga Nahdliyen yang bermistatun sekitar Kuala Lumpur dan Selangor. Saya sangat berharap warga Nu di Malaysia untuk hadir ke acara yang sudah di jadwalkan itu,ungkap Saudara Lasip saat menghubungi via telepon genggamnya.
Dalam pelantikan tersebut juga akan diadakan pengajian akbar yang akan di sampaikan oleh Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Indonesia ,KH .Hasyim Muzadi .
Menurut ketua panitia pelantikan persiapa sudah hampir 80 persen ,Insya Allah sesuai dengan jadwal akan berjalan dengan mulus,kata Saudara Lasip
Apa bilah saya tanya dengan saudara Lasip kenapa pelantikan Nucim di adakan di Wiradamai,karena wiradamai adalah tempat yang sangat strategis untuk bisa warga Nahdliyen di Malaysia menghadiri acara pelantikan itu.
Tempat pelantikan Nucim yang akan di adakan itu,sangat memungkinkan dapat di jangkau oleh warga Nahdliyen yang bermistatun sekitar Kuala Lumpur dan Selangor. Saya sangat berharap warga Nu di Malaysia untuk hadir ke acara yang sudah di jadwalkan itu,ungkap Saudara Lasip saat menghubungi via telepon genggamnya.