Tuesday, November 2, 2010

Menakertrans: Transmigrasi Bisa Bantu Relokasi Bencana


Jakarta (ANTARA News) - Bencana alam yang terjadi bersamaan di Mentawai dan Yogyakarta, selain menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit juga ribuan orang terpaksa meninggalkan rumah dan harta bendanya untuk mengungsi. Bahkan korban tsunami di Mentawai banyak yang kehilangan rumah dan harta benda.

"Pemerintah sedang melakukan kajian mendesak untuk mengatasi masalah bencana saat ini dengan mempertimbangkan berbagai opsi. Apalagi Mentawai yang diduga akan terus diliputi bencana di masa-masa yang akan datang," jelas Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar disela-sela pelantikan Bupati Sidoarjo Jawa Timur, Senin.

Dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa, disebutkan Kemenakertrans sendiri sedang menyiapkan paket bantuan obat-obatan dan tenaga medis yang akan diterjunkan ke lokasi-lokasi bencana.

"Selain itu, Kemenakertrans juga sudah menyiapkan beberapa opsi jika ada permintaan atau tuntutan masyarakat untuk melakukan transmigrasi. Kita sekarang melakukan inventarisasi lahan yang bila dibutuhkan sebagai bagian dari penanganan bencana sudah dapat kami sediakan," tambah Muhaimin.

Bencana tsunami di Kepulauan Mentawai pada (25/10) mengakibatkan lebih dari 450 orang korban meninggal dan ratusan lainnya hilang ditengarai sebagai daerah yang sangat rawan bencana karena letaknya persis di patahan Sumatera. Beberapa kelompok masyarakat menyatakan bahwa kepulauan itu sangat membahayakan bila terus dihuni sehingga perlu opsi lain misalnya dengan relokasi.

"Relokasi sebenarnya sangat berat karena ada banyak aspek yang perlu dipertimbangkan. Namun, jika harus diambil semuanya harus siap. Jangan kemudian ada tuduhan pemerintah tidak siap lagi. Transmigrasi bisa menjadi pilihan yang masuk akal karena bukan hanya pindah tapi juga didukung dengan sarana dan penunjang ekonomi masyarakat," jelas pria yang kerap disapa Cak Imin ini.

"Namun yang terpenting sekarang adalah menyelesaikan tahap awal yaitu tanggap darurat. Bapak Wapres Boediono sudah menyampaikan bahwa tanggap darurat akan berlangsung dua minggu. Setelah itu baru dibahas penanganan lebih lanjut," tegas Muhaimin.(*)

Monday, November 1, 2010

Al Qur'an tertua di Pulau Bawean Di Temukan Warga



Salam

Peninggalan sejara kayaknya masih banyak di Bawean jika di tulusuri,banyak peninggalan sejara yang bisa di bikin rujukan di Bawean sana.

Satu conto katanya di kampungku Kumalasa ada peninggalan Jujuk Cempah,di mana pada waktu Jujuk Cempah sampai Kumalasa bukan naik perahu atau kapal malaikan menaiki keduk yaitu bahanya di buat dari besi sperti kuali.

Ini perlu penilitian drai para akdemisi yang menekuni barang purba lama,jika ini di telusuri tidak mustahil banyak barang bersejara di Bawean.Seperti mana Alqur'an lama yang di alnsir Media Bawean Hari ini,Yaitu sebuah Alqur'an lama yang di temukan warga.

Berita terkait Alqur'an lama

Bawean: Agus Syuhadak (46 Th.) asal Batusendi Sidogedungbatu, sekarang menetap di desa Pudakit Barat telah menemukan Al Qur'an tertua di Pulau Bawean, tertulis dibahas kapas dengan menggunakan tinta pena.

Menurut pengakuan Agus Syuhadak, Al Qur'an yang dimemilikinya adalah turun temurun dari keluarga sang ayah berasal dari desa Kebuntelukdalam Sangkapura.

"Walaupun tidak ada halaman setiap lembarannya, tetapi berurutan mulai juz pertama sampai akhir 30 juz," kata Agus.

Kenapa meyakini Al Qur'an ini tertua di Pulau Bawean? . "Setelah mempelajari buku karangan Quraisy Shihab tentang Al Qur'an, dilihat dari bentuk dan kualitas bahannya dari kapas,"jawabnya.

Lebih lanjut Agus Syuhadak alumni IANJ Nurul Jadid Paiton Probolinggi memprediksi Al Qur'an yang dimilikinya berusia sekitar 500 tahun. (bst)

2 Petani Tewas Disambar Petir, 1 Luka


MAGETAN, KOMPAS.com - Tiga buruh tani asal Desa Sidowayah dan Desa Turi, Kecamatan Panekan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, tersambar petir saat berada di sawah, Minggu (31/10/2010).

Dua orang tewas seketika, dan seorang lainnya mengalami luka bakar ringan kemudian dibawa ke Puskesmas Panekan.

Dua korban tewas adalah Samsuddin, 35, warga Desa Sidowayah, dan Suyadi, 37, warga Desa Turi. Keduanya ditemukan tewas mengenaskan di pematang sawah dengan luka bakar di sekujur tubuh mirip sayatan benda tajam dan berwarna hitam.

Sedangkan korban selamat adalah Sudir, 41, warga Desa Sidowayah. Ia tampak syok berat. Dia dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Panekan.

Awalnya, tiga buruh tani itu sibuk mencangkul di lahan pertanian milik Ny Sujarwi, 47, warga Desa Sidowayah. Setelah turun hujan, mereka berteduh di sebuah gubug di tengah sawah tersebut. Namun, baru berteduh sesaat, sebuah kilat menyambar sehingga mereka terkapar.

“Saat kami temukan, dua korban sudah tak bernyawa dan seorang lainnya tak sadarkan diri,” teran Bambang, 45, warga setempat, kepada Surya, Minggu (31/10) sore.

Adapun Sudir mengisahkan, petir menyambar tepat ke dua rekannya, yang berada di samping gubug. “Tadi saya tak sadar, dan tiba-tiba sudah dirawat,” ungkapnya.

Terpisah, Kapolsek Panekan, AKP Widjianto, menjelaskan, polisi dari Bagian Identifikasi Polres Magetan dan Polsek Panekan telah memeriksa para korban. Dia memastikan bahwa Sudir dan kawan-kawan menjadi korban petir. (Sudarmawan)

96 Korban Tsunami Belum Ditemukan

PADANG, KOMPAS.com - Sebanyak 96 orang korban gempa dan tsunami di Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, belum ditemukan Tim Search And Rescue (SAR).

"Data yang dihimpun, sebanyak 96 orang korban tsunami yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Mentawai, belum ditemukan Tim SAR," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana BPBD Sumbar, Ade Edwar, di Padang, Senin (1/11/2010).

Gempa berkekuatan 7,2 skala Richter disusul gelombang tsunami di Kabupaten Kepuluan Mentawai pada Senin (25/10), menyebabkan sekitar 449 orang meninggal dunia.

Korban yang mengalami luka-luka ketika terjadi gempa dan Tsunami yakni 270 orang mengalami luka berat, 142 orang kondisi luka ringan. Warga yang berada pada tempat pengungsian sebanyak 14.983 jiwa

Rumah warga yang rusak akibat gempa dan tsunami sebanyak 517 unit kondisi rusak berat, 204 unit rumah rusak ringan, rumah dinas 4 unit, 2 unit rusak berat Resort, 1 unit kapal pesiar terbakar, 1 unit kapal pesiar rusak ringan.

Sementara fasilitas umum yang rusak, ketika terjadi gempa dan tsunami yakni jembatan 7 unit, jalan P2D rusak sepanjang 8 km.

Ade Edwar mengatakan, saat ini ada tiga orang korban tsunami terjadi di Kabupaten Kepuluan Mentawai yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Pusat M Jamil Padang.

"Korban menjalani perawatan yakni, Nelli (19) warga Malakopak, Pardamaian (26) warga Dusun Eruk Parabout, Desa Malakopak, Melda Yanti (12) warga Muntee, Kabupaten Mentawai," katanya.

Satu orang bayi lahir pascagempa dan tsunami di Kabupaten Mentawai, yang belum diberi nama oleh kedua orang tuanya meninggal dunia di Rumah Sakit Umum M Jamil Padang.

Dia menambahkan, pasien bernama Nelli (19) setelah melahirkan di Desa Malakokap, Kabupaten Kepuluan Mentawai, harus menjalani perawatan di Rumah Sakit M Jamil, Padang. Sementara dua orang lagi, yakni Melda Yanti (12) mengalami luka pada bagian pinggang sebelah kiri.

"Sedangkan pasien bernama Pardamaian (26), warga dusun Eruk Parabout, desa Malakopak mengalami trauma tumpul (perlukaan pada abdomen tanpa penetrasi ke dalam rongga peritoneum,red) diakibatkan oleh pukulan, benturan, ledakan, deselarasi (perlambatan),"kata Ade Edwar.

Saat ini Pardamian berada di ruang RR rumah saki M.jamil Padang. Pihak Rumah Sakit M.Jamil Padang, belum melakukan operasi pada Perdamian, melihat dulu kondisi pasien.

Tim SAR serta dibantu para relawan masih terus melakukan pencarian terhadap korban meninggal dunia maupun warga hilang, serta menyalurkan bantuan yang telah diterima dari sejumlah pihak baik pemerintah, swasta, maupun LSM.
ANT
Sumber :

Gempa 5 SR Guncang Barat Laut Saumlaki

Jakarta (ANTARA News) - Gempa berkekuatan 5,0 skala Richter (SR) terjadi di 211 km Barat Laut Saumlaki-Maluku, Senin, pukul 02.23 WIB.

Situs Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika melaporkan, pusat gempa terjadi di koordinat 6,19 Lintang Selatan-130,64 Bujur Timur dan di kedalaman 143 km. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Di Saumlaki, selama bulan Oktober tercatat terjadi 2 kali gempa, yaitu pada tanggal 2 dan 28 Oktober. Gempa di Saumlaki rata-rata berkekuatan 5 SR.

Sementara itu, sebelumnya gempa bumi berkekuatan 5,0 pada skala Richter terjadi di Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara di Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat, pada Minggu (31/10) pukul 19.23 WIB.

Pusat gempa berada pada 3,59 Lintang Selatan-99,74 Bujur Timur yakni 89 kilometer sebelah barat daya Pulau Pagai Selatan, dengan kedalaman 40 kilometer. Gempa bumi tersebut tidak berpotensi terjadi tsunami.

Pada Sabtu (30/10) Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara juga dua kali diguncang gempa bumi masing-masing berkekuatan 5,0 SR dan 5,1 SR.

BMKG mencatat, gempa bumi berkekuatan 5,0 SR terjadi pada pukul 07.55 WIB, dengan pusat gempa pada titik 3.77 LS-99.15 BT yakni di 152 kilometer di sebelah barat daya Pulau Pagai Selatan, dengan kedalaman 11 kilometer.

Kemudian, gempa bumi berkekuatan 5,1 SR terjadi pada pukul 01.05 WIB, dengan pusat gempa pada titik 3,45 LS-99,42 BT yakni 108 kilometer sebelah barat daya Pulau Pagai Selatan, dengan pusat gempa pada kedalaman 27 kilometer.

Kedua gempa bumi yang terjadi pada Sabtu (30/10) kemarin juga tidak berpotensi terjadi tsunami.

Pulau Pagai Selatan dan Pulau Pagai Utara yang berada di Kabupaten Mentawai sebelumnya dilanda gempa bumi berkekuatan 7,2 SR pada Senin (25/10) pukul 21.42 WIB.

Gempa bumi tersebut menyebabkan tsunami yang merusak sebagian wilayah Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara termasuk gedung, rumah penduduk, maupun infrastruktur.

Hingga Minggu petang korban tewas akibat tsunami di Pulau Pagai Selatan dan Pagai Utara Kabupaten Mentawai, Sumatera barat, tercatat sebanyak 449 orang. (M041/K004)