Jakarta, NU Online :Tak ingin ketinggalan dengan fraksi lainnya, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) telah menyerahkan nama-nama yang direkomendasikan sebagai tim pengawas Bank Century. Dua nama baru muncul dengan alasan kompetensi.
"Sudah diserahkan kemarin, ada dua nama yaitu Nur Yasin dan Imam Nahrowi," ujar Ketua Fraksi PKB Marwan Jafar di Jakarta, Rabu (21/4).
Menurut Marwan, dua nama baru tersebut dipilih fraksi berdasarkan pertimbangan yang matang. Kali ini PKB tak lagi memasang nama Lili Wahid sebagai wakilnya. Salah satu alasannya karena PKB ingin memunculkan tokoh muda yang lebih memiliki kompetensi.
"Nur Yasin adalah Wakil Ketua Badan Akuntabilitas DPR, yang membahas temuan BPK dan sosoknya itu sangat kompetibel. Sedangkan Imam adalah kader muda, dia Ketua Wilayah Jawa Timur. Lili Wahid tidak layak, tidak berkompetensi," tandasnya. (ful)
Wednesday, April 21, 2010
Tuesday, April 20, 2010
Punya Dua KTP Akan Diancam Penjara
PADANG - SURYA— Warga Kota Padang, Sumatera Barat, yang terbukti memiliki kartu tanda penduduk ganda akan diancam hukuman penjara dua tahun serta denda Rp 25 juta.
Ancaman itu menjadi satu bagian dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan yang dibahas Pansus Komisi I Bidang Kependudukan DPRD Padang, Senin (19/4/2010).
“Klausul ancaman tersebut masuk dalam Pasal 107, yang intinya setiap orang atau KK yang memiliki dua KTP dengan sengaja dikategorikan pelanggaran pidana kependudukan,” kata Ketua Pansus I DPRD Kota Padang Jumadi.
Ancaman sanksi itu memang baru dalam bentuk draf ranperda, kemudian akan dibahas lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan pendapat para ahli bidang hukum dan tata negara.
Untuk pembahasan ranperda ini, Pansus I sudah mengajukan perpanjangan sampai Mei 2010 dari jadwal yang telah disusun oleh Badan Musyawarah (Banmus) DPRD, yakni hingga 29 April 2010.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Padang Vidal Triza mengatakan, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Padang terancam sanksi berat jika melanggar pengurusan administrasi kependudukan, sebagaimana yang termaktub di dalam ranperda itu.
“Pejabat yang terlambat mengurus administrasi kependudukan, termasuk keluarganya, juga masuk kategori pelanggaran pengurusan administrasi kependudukan itu,” katanya menegaskan.
Menurut dia, masyarakat juga akan kena sanksi jika melakukan pelangaran tersebut. Namun, sanksi itu lebih ringan daripada hukuman yang diterima oleh para pejabat.
Ancaman itu menjadi satu bagian dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Administrasi Kependudukan yang dibahas Pansus Komisi I Bidang Kependudukan DPRD Padang, Senin (19/4/2010).
“Klausul ancaman tersebut masuk dalam Pasal 107, yang intinya setiap orang atau KK yang memiliki dua KTP dengan sengaja dikategorikan pelanggaran pidana kependudukan,” kata Ketua Pansus I DPRD Kota Padang Jumadi.
Ancaman sanksi itu memang baru dalam bentuk draf ranperda, kemudian akan dibahas lebih lanjut dengan pihak-pihak terkait, termasuk dengan pendapat para ahli bidang hukum dan tata negara.
Untuk pembahasan ranperda ini, Pansus I sudah mengajukan perpanjangan sampai Mei 2010 dari jadwal yang telah disusun oleh Badan Musyawarah (Banmus) DPRD, yakni hingga 29 April 2010.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Padang Vidal Triza mengatakan, pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Padang terancam sanksi berat jika melanggar pengurusan administrasi kependudukan, sebagaimana yang termaktub di dalam ranperda itu.
“Pejabat yang terlambat mengurus administrasi kependudukan, termasuk keluarganya, juga masuk kategori pelanggaran pengurusan administrasi kependudukan itu,” katanya menegaskan.
Menurut dia, masyarakat juga akan kena sanksi jika melakukan pelangaran tersebut. Namun, sanksi itu lebih ringan daripada hukuman yang diterima oleh para pejabat.
Kosta Rika Bebaskan 13 WNI
San Jose - SURYA - Polisi Kosta Rika, Minggu, membebaskan 36 orang Asia termasuk 13 WNI dari kondisi “tak manusiawi” di dua kapal penangkap ikan yang dioperasikan oleh perusahaan asing penangkapan ikan, tempat mereka dipukuli dan dipaksa bekerja tanpa bayaran, demikian laporan media setempat.
Orang-orang itu –15 warga negara Vietnam, 13 orang Indonesia, lima Filipina, dua orang Taiwan dan satu orang China– dipaksa bekerja selama 20 jam per hari, diberi sedikit makanan dan dipecut sebagai hukuman, kata surat kabar La Nacion, sebagaimana dikutip dari AFP.
“Mereka berada dalam kondisi yang sepenuhnya tidak sehat, tak manusiawi, berdesak-desakkan,” kata Jorge Rojas Vargas, Direktur Lembaga Penyelidikan Kehakiman (OIJ).
Semua orang itu diberi tahu mereka akan dibayar 250 dolar AS per bulan, tapi tak ada uang kontan yang diberikan dan operator kapal Taiwan tersebut mengaku “telah mengirim pembayaran” kepada keluarga kelompok pria itu. Paspor mereka disita dalam upaya mencegah mereka melarikan diri.
“Ini adalah perbudakan modern,” kata Direktur Migrasi Mario Zamora sebagaimana dikutip.
Pemilik kapal penangkap ikan tersebut tak diidentifikasikan, tapi pihak berwenang menyatakan dua pria Taiwan dan satu orang Kosta Rika ditangkap dalam operasi itu.
Pihak berwenang sedang menyelidiki kasus itu sebagai tindakan yang diduga merupakan penyelundupan manusia –kegiatan pasar gelap paling menggiurkan ketiga setelah penyeludupan narkotika dan senjata.
Perdagangan tersebut menghasilkan 9,5 juta dolar AS per tahun di tingkat global, demikian perkiraan PBB.
Polisi Kosta Rika telah menyelidiki kasus itu selama empat bulan, sejak sembilan pria Vietnam melarikan diri dengan cara melompat dari kapal, berenang ke pantai dan memberitahu petugas, kata beberapa pejabat. ant
Orang-orang itu –15 warga negara Vietnam, 13 orang Indonesia, lima Filipina, dua orang Taiwan dan satu orang China– dipaksa bekerja selama 20 jam per hari, diberi sedikit makanan dan dipecut sebagai hukuman, kata surat kabar La Nacion, sebagaimana dikutip dari AFP.
“Mereka berada dalam kondisi yang sepenuhnya tidak sehat, tak manusiawi, berdesak-desakkan,” kata Jorge Rojas Vargas, Direktur Lembaga Penyelidikan Kehakiman (OIJ).
Semua orang itu diberi tahu mereka akan dibayar 250 dolar AS per bulan, tapi tak ada uang kontan yang diberikan dan operator kapal Taiwan tersebut mengaku “telah mengirim pembayaran” kepada keluarga kelompok pria itu. Paspor mereka disita dalam upaya mencegah mereka melarikan diri.
“Ini adalah perbudakan modern,” kata Direktur Migrasi Mario Zamora sebagaimana dikutip.
Pemilik kapal penangkap ikan tersebut tak diidentifikasikan, tapi pihak berwenang menyatakan dua pria Taiwan dan satu orang Kosta Rika ditangkap dalam operasi itu.
Pihak berwenang sedang menyelidiki kasus itu sebagai tindakan yang diduga merupakan penyelundupan manusia –kegiatan pasar gelap paling menggiurkan ketiga setelah penyeludupan narkotika dan senjata.
Perdagangan tersebut menghasilkan 9,5 juta dolar AS per tahun di tingkat global, demikian perkiraan PBB.
Polisi Kosta Rika telah menyelidiki kasus itu selama empat bulan, sejak sembilan pria Vietnam melarikan diri dengan cara melompat dari kapal, berenang ke pantai dan memberitahu petugas, kata beberapa pejabat. ant
Monday, April 19, 2010
Susunan Penyesuaian PBNU 2010-2015 Resmi Diumumkan
Senin, 19 April 2010 17:51 Jakarta, NU Online
Dengan didampingi oleh Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan Sekretaris Jenderal PBNU Iqbal Sullam, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengumumkan susunan PBNU hasil penyesuaian dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBNU di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya 164 Jakarta, Senin (19/4) sore pukul 16.20 WIB.
Pengumuman yang dibacakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj adalah sebagai berikut :
Alhamdulillahi haqqo hamdih. As-sholatu wassalamu 'alaa 'abdih, wa 'alaa alihi wa ashhabihi waman tabi'ahum ilaa yaumi wa'dih. Wa ba'du
Rais Am Syuriyah dan Ketua Umum PBNU selaku mandataris yang diberi tugas untuk melengkapi susunan kepengurusan PBNU periode 2010-2015 sebagaimana telah diamanatkan oleh Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga jam'iyyah Nahdlatul Ulama, khususnya pasal 41 tentang Pemilihan dan Penetapan Pengurus, setelah mempertimbangkan berbagai masukan, terutama dari anggota mede formatur, maka bersama ini mengumumkan dengan resmi susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010-2015 sebagai berikut:
MUSTASYAR
Prof. Dr. KH Tholchah Hasan
KH Muchit Muzadi
KH Maemun Zubair
KH Ma'ruf Amin
KH Idris Marzuki
KH E. Fakhrudin Masturo
KH Chotib Umar
KH Dimyati Rois
Tuan Guru Turmudzi Badruddin
Dr. H M. Jusuf Kalla
KH Abdurrahim Mustafa
Prof. Dr. KH Maghfur Usman
Prof Dr. Nasaruddin Umar, MA
KH Sya’roni Ahmadi
Prof. Dr. Ridhwan Lubis
KH Muiz Kabri
KH Mahfudl Ridwan
Dr. Ing. H. Gauzi Bowo
KH A. Syatibi
PENGURUS HARIAN SYURIYAH
Rais Am : Dr. KH. M. A. Sahal Mahfudh
Wakil : Dr. KH A. Musthofa Bisri
Rais : Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya
Rais : KH AGH Sanusi Baco
Rais : Dr. KH Hasyim Muzadi
Rais : KH Masduqi Mahfudh
Rais : KH Hamdan Kholid
Rais : KH Masdar Farid Mas’udi, MA
Rais : KH Mas Subadar
Rais : Prof. Dr. Machasin, MA.
Rais : Prof. Dr. KH Ali Musthofa Yaqub
Rais : Prof. Dr. H Artani Hasbi
Rais : KH Ibnu Ubaidillah Syatori
Rais : KH Saifuddin Amtsir, MA
Rais : KH Adib Rofiuddin Izza
Rais : KH Ahmad Ishomuddin M.Ag.
Katib Am : Dr. KH. Malik Madani
Katib : KH Drs. Ichwan Syam
Katib : KH Musthofa Aqil
Katib : KH Kafabihi Mahrus Ali
Katib : KH Yahya Staquf Cholil
Katib : KH Shalahuddin al-Ayyubi, M.Si
Katib : KH Afifuddin Muhajir
Katib : KH Mujib Qolyubi M.Hum.
PENGURUS HARIAN TANFIDZIYAH
Ketua Umum : Dr. KH Said Aqil Siradj, MA.
Wakil Ketua Umum : Drs. H As'ad Said Ali
Ketua : Drs. H. Slamet Effendi Yusuf, MSi
Ketua : KH Hasyim Wahid Hasyim
Ketua : KH Abbas Muin, MA
Ketua : Drs H. Muh. Salim al-Jufri
Ketua : Prof. Dr. H Maksum Mahfudz
Ketua : Prof. Dr. Maidir Harun
Ketua : Drs. H Saifullah Yusuf
Ketua : Drs. M. Imam Azis
Ketua : Drs. H. Hilmi Muhammadiyah, MSi
Ketua : Drs H. Abdurrahman, M.Pd
Ketua : Drs H Arvin Hakim Thoha
Ketua : Dr. KH Marsudi Syuhud
Ketua : Prof. Dr. Kacung marijan
Ketua : H. Dedi Wahidi S. Pd, M.Si
Sekretaris Jenderal : Ir. H M. Iqbal sulam
Wakil Sekjen : Drs. H. Enceng Shobirin
Wakil Sekjen : Drs. H. Abdul Mun'im DZ
Wakil Sekjen : Dr. H Aji Hermawan
Wakil Sekjen : Dr. H. Affandi Muchtar
Wakil Sekjen : DR. dr. Syahrizal Syarif. MPH
Wakil Sekjen : Dr. H Hanif Saha Ghofur
Wakil Sekjen : Imdadun Rahmat, MA
Bendahara : Dr. H. Bina Suhendra
Wakil Bendahara : Dr. H. Zainal Abidin H.H
Wakil Bendahara : Nasirullah falah
Wakil Bendahara : H. Raja Sapta Ervian, SH. M.Hum
Wakil Bendahara : Hamid Wahid Zaini, M.Ag
Dengan pengumuman ini, diharapkan polemik atas susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 20-10-2015 sebagaimana telah beredar di media Massa selama ini, dan munculnya respon dari berbagai pihak, khususnya dari beberapa pengurus cabang dan wilayah Nahdlatul Ulama telah terjawab
Dengan didampingi oleh Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh dan Sekretaris Jenderal PBNU Iqbal Sullam, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengumumkan susunan PBNU hasil penyesuaian dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PBNU di Gedung PBNU Jl. Kramat Raya 164 Jakarta, Senin (19/4) sore pukul 16.20 WIB.
Pengumuman yang dibacakan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj adalah sebagai berikut :
Alhamdulillahi haqqo hamdih. As-sholatu wassalamu 'alaa 'abdih, wa 'alaa alihi wa ashhabihi waman tabi'ahum ilaa yaumi wa'dih. Wa ba'du
Rais Am Syuriyah dan Ketua Umum PBNU selaku mandataris yang diberi tugas untuk melengkapi susunan kepengurusan PBNU periode 2010-2015 sebagaimana telah diamanatkan oleh Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga jam'iyyah Nahdlatul Ulama, khususnya pasal 41 tentang Pemilihan dan Penetapan Pengurus, setelah mempertimbangkan berbagai masukan, terutama dari anggota mede formatur, maka bersama ini mengumumkan dengan resmi susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama periode 2010-2015 sebagai berikut:
MUSTASYAR
Prof. Dr. KH Tholchah Hasan
KH Muchit Muzadi
KH Maemun Zubair
KH Ma'ruf Amin
KH Idris Marzuki
KH E. Fakhrudin Masturo
KH Chotib Umar
KH Dimyati Rois
Tuan Guru Turmudzi Badruddin
Dr. H M. Jusuf Kalla
KH Abdurrahim Mustafa
Prof. Dr. KH Maghfur Usman
Prof Dr. Nasaruddin Umar, MA
KH Sya’roni Ahmadi
Prof. Dr. Ridhwan Lubis
KH Muiz Kabri
KH Mahfudl Ridwan
Dr. Ing. H. Gauzi Bowo
KH A. Syatibi
PENGURUS HARIAN SYURIYAH
Rais Am : Dr. KH. M. A. Sahal Mahfudh
Wakil : Dr. KH A. Musthofa Bisri
Rais : Habib Luthfi bin Hasyim bin Yahya
Rais : KH AGH Sanusi Baco
Rais : Dr. KH Hasyim Muzadi
Rais : KH Masduqi Mahfudh
Rais : KH Hamdan Kholid
Rais : KH Masdar Farid Mas’udi, MA
Rais : KH Mas Subadar
Rais : Prof. Dr. Machasin, MA.
Rais : Prof. Dr. KH Ali Musthofa Yaqub
Rais : Prof. Dr. H Artani Hasbi
Rais : KH Ibnu Ubaidillah Syatori
Rais : KH Saifuddin Amtsir, MA
Rais : KH Adib Rofiuddin Izza
Rais : KH Ahmad Ishomuddin M.Ag.
Katib Am : Dr. KH. Malik Madani
Katib : KH Drs. Ichwan Syam
Katib : KH Musthofa Aqil
Katib : KH Kafabihi Mahrus Ali
Katib : KH Yahya Staquf Cholil
Katib : KH Shalahuddin al-Ayyubi, M.Si
Katib : KH Afifuddin Muhajir
Katib : KH Mujib Qolyubi M.Hum.
PENGURUS HARIAN TANFIDZIYAH
Ketua Umum : Dr. KH Said Aqil Siradj, MA.
Wakil Ketua Umum : Drs. H As'ad Said Ali
Ketua : Drs. H. Slamet Effendi Yusuf, MSi
Ketua : KH Hasyim Wahid Hasyim
Ketua : KH Abbas Muin, MA
Ketua : Drs H. Muh. Salim al-Jufri
Ketua : Prof. Dr. H Maksum Mahfudz
Ketua : Prof. Dr. Maidir Harun
Ketua : Drs. H Saifullah Yusuf
Ketua : Drs. M. Imam Azis
Ketua : Drs. H. Hilmi Muhammadiyah, MSi
Ketua : Drs H. Abdurrahman, M.Pd
Ketua : Drs H Arvin Hakim Thoha
Ketua : Dr. KH Marsudi Syuhud
Ketua : Prof. Dr. Kacung marijan
Ketua : H. Dedi Wahidi S. Pd, M.Si
Sekretaris Jenderal : Ir. H M. Iqbal sulam
Wakil Sekjen : Drs. H. Enceng Shobirin
Wakil Sekjen : Drs. H. Abdul Mun'im DZ
Wakil Sekjen : Dr. H Aji Hermawan
Wakil Sekjen : Dr. H. Affandi Muchtar
Wakil Sekjen : DR. dr. Syahrizal Syarif. MPH
Wakil Sekjen : Dr. H Hanif Saha Ghofur
Wakil Sekjen : Imdadun Rahmat, MA
Bendahara : Dr. H. Bina Suhendra
Wakil Bendahara : Dr. H. Zainal Abidin H.H
Wakil Bendahara : Nasirullah falah
Wakil Bendahara : H. Raja Sapta Ervian, SH. M.Hum
Wakil Bendahara : Hamid Wahid Zaini, M.Ag
Dengan pengumuman ini, diharapkan polemik atas susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama 20-10-2015 sebagaimana telah beredar di media Massa selama ini, dan munculnya respon dari berbagai pihak, khususnya dari beberapa pengurus cabang dan wilayah Nahdlatul Ulama telah terjawab
Saturday, April 17, 2010
Selamat Jalan Gubernur Wong Cilik

Penggagas Jembatan Suramadu
Surabaya - Surya- Masyarakat Jatim berduka. Tokoh panutan dan mantan gubernur Jatim periode 1967-1976 yang juga penggagas Jembatan Suramadu, Haji Raden Panji Mohammad Noer, meninggal dunia, Jumat (16/4) pukul 08.50 WIB.
Tokoh kelahiran Sampang, Madura, itu meninggal dalam usia 92 tahun di Ruang ICU RS Darmo, Surabaya, setelah sejak 21 September 2009 menjalani perawatan. Pak Noer yang dikenang semasa kepemimpinannya di Jatim sebagai gubernur yang peduli orang kecil dan membuat wong cilik gumuyu itu, wafat karena kegagalan multiorgan bawaan usia yang sudah lanjut.
Anak ketiga almarhum, Prof dr M Sjaifudin Noer Sp B, mengatakan, sebelum meninggal, kondisi ayahnya sempat kritis selama beberapa hari. “Tepat pukul 08.50 WIB tadi tim dokter yang merawat menyatakan beliau meninggal dunia,” ujarnya di RS Darmo sesaat setelah wafatnya Pak Noer.
Sementara itu, Poeng Rahman, keponakan H.M. Noer, menjelaskan, sejak 21 September 2009, Pak Noer menjalani perawatan intensif di RS Darmo. “Sebenarnya Bapak tidak gerah (sakit) apa-apa, tetapi karena sudah sepuh (tua) saja,” kata Poeng Rahman yang menjadi Sekretaris Yayasan Asma Indonesia Cabang Jatim, yang ketuanya dijabat Pak Noer.
Selain sejumlah anak, menantu, cucu, dan cicitnya, tampak menyaksikan saat-saat terakhir Pak Noer adalah istri tercintanya, Mas Ayoe Siti Rachma, 89. Dengan duduk di kursi roda, wajah perempuan sepuh ini tampak sembab digelayuti rasa kesedihan ditinggal suami tercinta. Pak Noer meninggalkan seorang istri, 8 anak, 21 cucu, dan enam cicit.
Untuk memberi kesempatan kepada masyarakat menyampaikan penghormatan dan sesuai keinginan istri mendiang, jenazah almarhum baru akan dimakamkan di pemakaman keluarga di kawasan Kelurahan Rong Tengah, kawasan Somor Pompa, Kabupaten Sampang, Madura, Sabtu (17/4) ini. Apalagi, belum semua anak Pak Noer berada di Surabaya.
Bahkan menurut Sjarifuddin, dua anak mendiang, yakni Saifurrahman Noer masih berada di Seattle, Amerika Serikat, dan Akhiruddin Noer sedang menghadiri kongres tentang ginjal pada anak di Paris, Prancis.
Kabar wafatnya Pak Noer langsung tersebar cepat. Sejumlah pejabat tampak datang ke RS Darmo untuk menyampaikan penghormatan terakhir terhadap almarhum. Di antara yang sempat menjenguk mendiang di RS Darmo adalah Bupati Bangkalan Fuad Amin, Wali Kota dan Wakil Wali Kota Surabaya (Bambang DH dan Arif Afandi). Sekitar pukul 10.30 WIB, jenazah kemudian dibawa ke rumah duka di Jalan Anwari 11, Surabaya untuk disemayamkan.
Di rumah duka, hampir semua pejabat dan tokoh masyarakat Jatim datang untuk melayat dan memberi penghormatan terakhir kepada almarhum. Pantuan Surya, sejumlah pejabat dan tokoh yang terlihat, antara lain, Gubernur Soekarwo, Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Suwarno, Kapolda Jatim Irjen Pratiknyo, Kasgartap III Surabaya Brigjen (Mar) M Suwandi MT, mantan gubernur Jatim Basofi Soedirman dan Imam Utomo, Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhori, Rektor Unair Prof Dr Fasich, dan Rektor ITS Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD, serta banyak yang lainnya – baik dari kalangan militer, ulama, ormas, organisasi sosial, maupun profesional. Para pelayat terus berdatangan hingga malam, termasuk Ketua MPR Taufiq Kiemas.
Setengah Tiang
Sebagai ungkapan bela sungkawa, Gubernur Jatim Soekarwo menginstruksikan pengibaran bendera Merah-Putih setengah tiang sebagai masa berkabung atas meninggalnya Pak Noer.
“Kami menginstruksikan semua instansi di jajaran Pemprov Jatim mengibarkan bendera setengah tiang selama dua hari, Jumat (16/4) ini dan Sabtu (17/4). Sedangkan, untuk instansi di pemerintahan kabupaten/kota sifatnya hanya imbauan,” katanya saat ditemui di rumah duka, Jalan Ir Anwari Nomor 11, Surabaya.
Menurut dia, pengibaran bendera setengah tiang itu juga sebagai tanda penghormatan terhadap almarhum Pak Noer yang semasa hidupnya banyak berjasa dalam pembangunan di Jatim.
“Beliau tokoh yang patut dihormati karena memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rakyat kecil. Beliau itu membuat wong cilik gumuyu (rakyat kecil bergembira, red),” kata Soekarwo.
Hal senada diungkapkan HM Basofi Soedirman, mantan gubernur Jatim periode 1993-1998.
“Beliau dikenal sebagai orang yang rendah hati, membuat wong cilik gumuyu,” ujar Basofi.
Menurut Soekarwo, selama dua periode memerintah Jatim pada 1967-1976, Pak Noer mampu menjalin komunikasi dan koordinasi antara bawahan dan atasan. “Hubungan menyamping (ke jajaran Muspida), beliau juga baik,” kata Soekarwo.
Tidak hanya kalangan pejabat atau pembesar, kepergian Pak Noer yang pernah jadi Duta Besar RI untuk Prancis itu juga membuat masyarakat awam merasa kehilangan. Kemarin, ratusan warga dan santri menggelar salat gaib untuk Pak Noer di Masjid Raudlah Arrohmah, Kelurahan Mlajah, Kecamatan Kota, Kabupaten Bangkalan, Madura.
Ratusan warga itu tampak khusyuk saat mendoakan Pak Noer, yang pernah menjabat sebagai Bupati Bangkalan 1960-1965. Bahkan, ada salah satu jemaah yang meneteskan air mata karena tidak bisa menahan kesedihan.
Ketua Takmir Masjid Raudlah Arrohmah KH Imam Buchori Cholil mengatakan, pihaknya merasa kehilangan atas wafatnya HM Noer. “Sebab, beliau telah melakukan banyak hal untuk kemajuan masyarakat Bangkalan, Madura, dan Jawa Timur,” katanya.
“Beliau telah meletakkan dasar-dasar pemikiran inovatif untuk masyarakat Bangkalan pada khususnya, dan warga Jawa Timur pada umumnya,” tambah KH Imam.
Pengasuh pondok pesantren (Ponpes) Ibnu Cholil ini menjelaskan, salah satu pemikiran inovatif yang diberikan Pak Noer pada masyarakat, yakni menciptakan kerajinan `Tampar Palek` di Kecamatan Kokop, Bangkalan.
“Tampar Palek’ sendiri terbuat dari serat pohon yang biasa tumbuh di sekitar rumah warga. Hasil produksi kerajinan itu laku di daerah Bali dan masih ada hingga saat ini,” katanya.
Menurut KH Imam, adanya kerajinan `Tampar Palek` tersebut bisa mendorong maju ekonomi rakyat Bangkalan. Sedangkan pemikiran Pak Noer yang paling inovatif yakni sebagai penggagas Jembatan Suramadu.
Oleh karena itu, Bupati Bangkalan Fuad Amin Imron pernah mengusulkan jalan akses sepanjang 11 kilometer di Kabupaten Bangkalan yang menuju Jembatan Suramadu dinamakan dengan Jalan HM Noer.
Sementara itu, persiapan pemakaman kemarin sudah dilakukan sejak siang, dengan beberapa orang petugas suruhan dari Pemkab Sampang melakukan pembersihan dan penggalian lokasi pemakaman.
Lokasi makam Pak Noer berdekatan dengan makan kedua orangtuanya, yakni ayahnya, M Atmodiwirjo dan ibundanya, RA Ernani Chondro Pratikto.
Kabag Humas Pemkab Sampang, Rudi Setiady mengatakan, pemakaman jenazah Pak Noer di kompleks pemakaman “Ghung Purba” Kelurahan Rong Tengah itu sesuai dengan pesan almarhum semasa masih hidup. Upacara pemakaman akan dilakukan secara militer.
“Selain karena mantan gubernur dan dikenal sebagai orang yang sangat berjasa di Jawa Timur, beliau juga mantan pejuang kemerdekaan RI,” kata Komandan Kodim 0826 Sampang Letkol (Inf) Sanuri Hadi di Sampang, Jumat (16/4) malam. Dalam kemiliteran, pangkat Pak Noer adalah kapten.
Upacara pemakaman akan dipimpin oleh Pangdam V/Brawijaya, Mayjend TNI Suwarno, dan rencananya juga akan dihadiri Gubernur Jatim, Kapolda Jatim, serta bupati se-Madura.
Dalam sebuah wawancara pada 1996, Pak Noer menceritakan pahit getirnya perjuangan melawan Belanda saat menjabat sebagai Wedana Arosbaya, Madura, pada 1947. Ia bergabung dengan pasukan gerilya, sehingga harus berpisah dengan keluarganya.
Saat itu, istrinya sedang hamil tua, mengandung anaknya yang ketiga. Bersama anaknya yang masih kecil-kecil, istri Pak Noer mengungsi ke luar kota Arosbaya, menuju Desa Karangduwak. Di desa ini, anak ketiganya dilahirkan.
Karena terdesak Belanda, kelompok gerilya Pak Noer memutuskan hijrah ke Jawa. Namun, untuk meninggalkan Madura saat itu tidak mudah karena laut di sekitar Madura dikuasai Belanda. Akhirnya ditemukan tempat penyeberangan terbaik, yaitu di muara sungai Desa Klampis. Dari desa inilah, 20 dari 22 perahu gerilyawan dapat mendarat dengan selamat di suatu pantai di Tuban.
“Demi membela nusa dan bangsa, kami harus rela berpisah dengan keluarga,” ungkap Pak Noer kala itu. n uji/ant