Singapura, (ANTARA News) - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan, Selasa pagi ini meninggalkan Singapura untuk melanjutkan kunjungan kerjanya ke Kuala Lumpur Malaysia.
Setelah menginap semalam di Singapura, Presiden yang didampingi Ibu Ani Yudhoyono berangkat dari Bandara Internasional Changi Singapura, menuju Kuala Lumpur Malaysia menggunakan pesawat Kepresidenan Garuda Indonesia.
Kepala Negara dijadwalkan tiba di Kuala Lumpur pada pukul 09.00 waktu setempat dan dijadwalkan menghadiri pertemuan konsultasi tahunan dengan Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Mohd Najib Tun Abdul Razak.
Pertemuan konsultasi tahunan Indonesia-Malaysia merupakan forum bilateral tertinggi antara dua negara yang membahas segala tantangan dan peluang bagi pengembangan dan peningkatan hubungan bilateral yang saling menguntungkan dengan semangat penuh keterbukaan dan persahabatan.
Sejak diselenggarakan pada 2006, forum rutin tersebut digelar setahun sekali antara Indonesia dan Malaysia guna membahas segala persoalan dalam hubungan bilateral kedua negara tetangga.
Di kantor PM Malaysia Putrajaya, Presiden dan PM Malaysia akan membahas hubungan dan kerjasama Indonesia-Malaysia dalam berbagai bidang, antara lain ekonomi, investasi, perdagangan, tenaga kerja, serta pariwisata.
Setelah itu, Presiden dijadwalkan menerima kunjungan kehormatan Ketua World Islamic Forum (WIEF) yang juga mantan PM Malaysia, Tun Musa Hitam.
Di Malaysia pada Rabu 19 Mei 2010, Presiden diagendakan menyampaikan pidato pada WIEF ke-6 bertema Gearing for Economic Resurgence.
WIEF ke-6 diselenggarakan di Kuala Lumpur Convention Center menurut rencana akan dihadiri oleh delapan kepala negara/pemerintahan, yaitu Presiden Senegal, Presiden Maladewa, Presiden Kosovo, Perdana Menteri Bangaladesh, serta Wakil PM Kazakhstan.
Selama di Malaysia, Presiden Yudhoyono juga dijadwalkan bertemu dengan kalangan pebisnis Malaysia pada Selasa malam 18 Mei 2010 di hotel tempat rombongan Presiden menginap, JW Marriott. (D013/D012)
Tuesday, May 18, 2010
Monday, May 17, 2010
Fatayat Malaysia Kunjungi Shelter TKW di KBRI-Kuala Lumpur
Kuala Lumpur, NU Online
Rangkaian acara dan kegiatan hari lahir (Harlah) ke-5 Pimpinan Cabang Istimewa Fatayat NU Malaysia begitu padat, yang puncaknya telah dilaksanakan dengan penuh meriah pada Ahad, 9 Mei 2010 lalu.
Salah satu bentuk kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah kunjungan PCI Fatayat Malaysia ke shelter (tempat penampungan TKW bermasalah) yang berada di belakang KBRI-Kuala Lumpur.
Begitu acara puncak Harlah usai, sebagian pengurus Fatayat Malaysia menyertai para tamu rombongan dari Jakarta bergegas meluncur ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur.
Kunjungan Fatayat ke shelter ini dipimpin langsung oleh istri menteri tenaga kerja dan transmigrasi RI, Hj. Rustini Muhaimin Iskandar dengan didampingi ketua umum PP Fatayat Hj Maria Ulfah Anshor beserta 4 pengurusnya dan 2 orang dari Dirjen Binapenta dari Jakarta. Kegiatan ini berlangsung antara jam 17.00-19.00 waktu setempat.
Begitu saja tiba di halaman KBRI-Kuala Lumpur, tamu rombongan ini langsung disambut mesrah oleh ibu Ida Yulianti Bachtira, istri Duta besar RI di Kuala Lumpur dan beberapa staff kedutaan.
Kunjungan ke Shelter KBRI-KL ini merupakan kunjungan yang kedua bagi PCI Fatayat Malaysia. Ada perbedaan dan perubahan suasana yang ketara di shelter kali ini dibandingkan dengan kunjungan 3 tahun silam. Terutama pada lokasi shelter yang telah direhab begitu rapi dan nyaman, dengan tempat ibadah/kegiatan terlihat bersih dan ber-AC, dan para penghuni shelter juga berpakaian seragam.
Dalam kesempatan yang agak terbatas waktunya ini, selain kegiatan terfokus pada taaruf dan pertanyaan dari hati ke hati oleh istri menakertrans yang juga diikuti oleh beberapa pengurus Fatayat terhadapat para warga TKW ini, juga ada pembagian makanan, dan sholat bersama di sana.
Shelter yang hari itu dihuni 158 orang TKW terasa bergegar dan suasana bertukar menjadi haru apabila para TKW ini serentak menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sebagai sambutan terakhir mereka ketika para tamu rombongan ini akan meninggalkan ruangan shelter.
Tidak sampai di situ, pada Rabu, 12 Mei 2010, kegiatan dilanjut dengan penyerahan beberapa bingkisan keperluan asas wanita oleh PCI Fatayat Malaysia (yang diwakili oleh Fathonah K. Daud, Mimin Mintarsih, Ibanah Suhrowardiyah dan Muryanah) kepada para TKW yang masih berada di Shelter KBRI-KL. Bingkisan ini merupakan sumbangan sepenuhnya dari isteri menakertrans, yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan awal beliau di shelter tersebut.
“Yang terpenting follow up dari kegiatan ini, semoga moment ini dapat ,menjadi kunci pembuka lorong penghubung antara PCI Fatayat Malaysia dengan KBRI-KL, tentunya agar bisa bersinergi dan bekerjasama dengan KBRI untuk mendarmabaktikan diri pada kepentingan masyarakat kita di negara jiran ini,” kata Maria Ulfa. (fth)
Rangkaian acara dan kegiatan hari lahir (Harlah) ke-5 Pimpinan Cabang Istimewa Fatayat NU Malaysia begitu padat, yang puncaknya telah dilaksanakan dengan penuh meriah pada Ahad, 9 Mei 2010 lalu.
Salah satu bentuk kegiatan yang tidak kalah pentingnya adalah kunjungan PCI Fatayat Malaysia ke shelter (tempat penampungan TKW bermasalah) yang berada di belakang KBRI-Kuala Lumpur.
Begitu acara puncak Harlah usai, sebagian pengurus Fatayat Malaysia menyertai para tamu rombongan dari Jakarta bergegas meluncur ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur.
Kunjungan Fatayat ke shelter ini dipimpin langsung oleh istri menteri tenaga kerja dan transmigrasi RI, Hj. Rustini Muhaimin Iskandar dengan didampingi ketua umum PP Fatayat Hj Maria Ulfah Anshor beserta 4 pengurusnya dan 2 orang dari Dirjen Binapenta dari Jakarta. Kegiatan ini berlangsung antara jam 17.00-19.00 waktu setempat.
Begitu saja tiba di halaman KBRI-Kuala Lumpur, tamu rombongan ini langsung disambut mesrah oleh ibu Ida Yulianti Bachtira, istri Duta besar RI di Kuala Lumpur dan beberapa staff kedutaan.
Kunjungan ke Shelter KBRI-KL ini merupakan kunjungan yang kedua bagi PCI Fatayat Malaysia. Ada perbedaan dan perubahan suasana yang ketara di shelter kali ini dibandingkan dengan kunjungan 3 tahun silam. Terutama pada lokasi shelter yang telah direhab begitu rapi dan nyaman, dengan tempat ibadah/kegiatan terlihat bersih dan ber-AC, dan para penghuni shelter juga berpakaian seragam.
Dalam kesempatan yang agak terbatas waktunya ini, selain kegiatan terfokus pada taaruf dan pertanyaan dari hati ke hati oleh istri menakertrans yang juga diikuti oleh beberapa pengurus Fatayat terhadapat para warga TKW ini, juga ada pembagian makanan, dan sholat bersama di sana.
Shelter yang hari itu dihuni 158 orang TKW terasa bergegar dan suasana bertukar menjadi haru apabila para TKW ini serentak menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” sebagai sambutan terakhir mereka ketika para tamu rombongan ini akan meninggalkan ruangan shelter.
Tidak sampai di situ, pada Rabu, 12 Mei 2010, kegiatan dilanjut dengan penyerahan beberapa bingkisan keperluan asas wanita oleh PCI Fatayat Malaysia (yang diwakili oleh Fathonah K. Daud, Mimin Mintarsih, Ibanah Suhrowardiyah dan Muryanah) kepada para TKW yang masih berada di Shelter KBRI-KL. Bingkisan ini merupakan sumbangan sepenuhnya dari isteri menakertrans, yang merupakan tindak lanjut dari kunjungan awal beliau di shelter tersebut.
“Yang terpenting follow up dari kegiatan ini, semoga moment ini dapat ,menjadi kunci pembuka lorong penghubung antara PCI Fatayat Malaysia dengan KBRI-KL, tentunya agar bisa bersinergi dan bekerjasama dengan KBRI untuk mendarmabaktikan diri pada kepentingan masyarakat kita di negara jiran ini,” kata Maria Ulfa. (fth)
Menyingkap Hak Buruh Migran Dalam Perspektif Islam
Kuala Lumpur, NU Online
Selain acara resmi harlah Fatayat dilaksanakan pada Ahad pagi, 9 Mei, acara harlah dimeriahkan lagi dengan diadakannya acara bedah draf buku “Mengenal 101 Hak Buruh Migran Indonesia dalam Perspektif Islam” pada siang harinya.
Draf buku ini disusun oleh Dr Nur Rofi’ah, Bil. Uzm (salah satu pengurus pusat Fatayat). Buku ini merupakan hasil dari penelitiannya terhadap para buruh migran Indonesia (khususnya para pekerja rumah tangga perempuan) yang berada di Arab Saudi, Hongkong, Malaysia dan Singapura.
Nur Rofi’ah menyatakan bahwa dari penelitian yang ia lakukan, ditemukan sebuah fakta yang cukup menyedihkan, bahwa ternyata semakin sekuler sebuah negara, maka semakin diperhatikannya hak-hak para BMI (dalam hal ini dikhususkan kepada para perempuan pekerja rumah tangga) di negara tersebut.
Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan besar, mengapa terjadi? Sedangkan Islam adalah agama yang sangat memperhatikan perempuan. Selain itu, kenyataan yang terjadi adalah para BMI selain “terpaksa” bekerja di luar negeri, berjauhan dengan keluarga dan saudara, mereka juga terpaksa berada dalam posisi yang mereka anggap adalah “dosa” karena harus melakukan hal-hal yang mereka pahami sebagai melanggar aturan agama.
Oleh karena itu, hadirnya buku ini menawarkan sebuah solusi terhadap para BMI tentang hak-hak mereka, baik hak mereka sebagai warga negara Indonesia, hak mereka sebagai pekerja, dan khususnya hak mereka sebagai seorang muslim.
Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung meriah karena tanggapan dari para peserta cukup ramai. Di antaranya adalah usulan dari Samheri agar dalam buku tersebut juga dicantumkan institusi yang sah agar nantinya tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.
Selain itu, usulan Saiful Aiman juga menanyakan, apakah pemerintah mampu merubah Undang-undang nomor 39/2004 agar BMI yang beragama Islam untuk tidak bekerja kepada non-muslim.
Nur Rofi’ah sangat sulit karena para BMI yang berada di Hongkong misalnya, akan terancam tidak memperoleh pekerjaan apabila para BMI muslim tidak boleh bekerja kepada non-muslim.
“Idealnya, tidak ada warga Indonesia yang menjadi BMI untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun kita harus relistis. Untuk mencapai tahap “ideal” itu, diperlukan perjalanan dan perjuangan yang panjang,” katanya.
Dikatakannya, buku ini adalah salah satu usaha untuk membantu para BMI tersebut. Dan oleh karena para pekerja rumah tangga adalah hampir seluruhnya perempuan dan kebanyakannya berlatar belakang Nahdlatul Ulama, maka mereka merupakan tanggung jawab Fatayat juga.
Dan di akhir presentasinya Nur Rofi’ah berharap agar buku ini tidak saja dibaca oleh para BMI sendiri, namun juga sebagai pegangan bagi para majikan (baik muslim maupun non-muslim) yang mempunyai pekerja seorang muslim agar mereka mengenal hak-hak pekerjanya.
Sementara itu ketua umum PP Fatayat NU Hj Maria Ulfah Anshor dalam sambutannya menyatakan sangat bersyukur dengan hadirnya buku ini sebagai salah satu wujud kepedulian Fatayat terhadap para BMI dan sebagai usaha untuk mengisi beberapa celah kosong problematika BMI. (ibn)
Selain acara resmi harlah Fatayat dilaksanakan pada Ahad pagi, 9 Mei, acara harlah dimeriahkan lagi dengan diadakannya acara bedah draf buku “Mengenal 101 Hak Buruh Migran Indonesia dalam Perspektif Islam” pada siang harinya.
Draf buku ini disusun oleh Dr Nur Rofi’ah, Bil. Uzm (salah satu pengurus pusat Fatayat). Buku ini merupakan hasil dari penelitiannya terhadap para buruh migran Indonesia (khususnya para pekerja rumah tangga perempuan) yang berada di Arab Saudi, Hongkong, Malaysia dan Singapura.
Nur Rofi’ah menyatakan bahwa dari penelitian yang ia lakukan, ditemukan sebuah fakta yang cukup menyedihkan, bahwa ternyata semakin sekuler sebuah negara, maka semakin diperhatikannya hak-hak para BMI (dalam hal ini dikhususkan kepada para perempuan pekerja rumah tangga) di negara tersebut.
Hal ini tentunya menimbulkan sebuah pertanyaan besar, mengapa terjadi? Sedangkan Islam adalah agama yang sangat memperhatikan perempuan. Selain itu, kenyataan yang terjadi adalah para BMI selain “terpaksa” bekerja di luar negeri, berjauhan dengan keluarga dan saudara, mereka juga terpaksa berada dalam posisi yang mereka anggap adalah “dosa” karena harus melakukan hal-hal yang mereka pahami sebagai melanggar aturan agama.
Oleh karena itu, hadirnya buku ini menawarkan sebuah solusi terhadap para BMI tentang hak-hak mereka, baik hak mereka sebagai warga negara Indonesia, hak mereka sebagai pekerja, dan khususnya hak mereka sebagai seorang muslim.
Sesi dialog dan tanya jawab berlangsung meriah karena tanggapan dari para peserta cukup ramai. Di antaranya adalah usulan dari Samheri agar dalam buku tersebut juga dicantumkan institusi yang sah agar nantinya tidak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu.
Selain itu, usulan Saiful Aiman juga menanyakan, apakah pemerintah mampu merubah Undang-undang nomor 39/2004 agar BMI yang beragama Islam untuk tidak bekerja kepada non-muslim.
Nur Rofi’ah sangat sulit karena para BMI yang berada di Hongkong misalnya, akan terancam tidak memperoleh pekerjaan apabila para BMI muslim tidak boleh bekerja kepada non-muslim.
“Idealnya, tidak ada warga Indonesia yang menjadi BMI untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun kita harus relistis. Untuk mencapai tahap “ideal” itu, diperlukan perjalanan dan perjuangan yang panjang,” katanya.
Dikatakannya, buku ini adalah salah satu usaha untuk membantu para BMI tersebut. Dan oleh karena para pekerja rumah tangga adalah hampir seluruhnya perempuan dan kebanyakannya berlatar belakang Nahdlatul Ulama, maka mereka merupakan tanggung jawab Fatayat juga.
Dan di akhir presentasinya Nur Rofi’ah berharap agar buku ini tidak saja dibaca oleh para BMI sendiri, namun juga sebagai pegangan bagi para majikan (baik muslim maupun non-muslim) yang mempunyai pekerja seorang muslim agar mereka mengenal hak-hak pekerjanya.
Sementara itu ketua umum PP Fatayat NU Hj Maria Ulfah Anshor dalam sambutannya menyatakan sangat bersyukur dengan hadirnya buku ini sebagai salah satu wujud kepedulian Fatayat terhadap para BMI dan sebagai usaha untuk mengisi beberapa celah kosong problematika BMI. (ibn)
Islah PKB-PKNU Sedang Mencari Format
Jakarta, NU Online
Komite Islah PKB dan PKNU sedang mencari format islah yang terbaik untuk kedua partai berbasis nahdliyin itu. Sementara pembicaraan Ahad kemarin baru sebatas cara dan pihak mana yang mesti bergabung.
Demikian disampaikan Sekjen DPP PKNU H Idham Cholied di Jakarta Senin (17/5). Menurutnya, PKB menawarkan PKNU untuk bergabung saja. Namun bagi PKNU tawaran ini cukup rumit mengingat masih ada dua kubu di PKB.
Sekjen PKB Lukman Edi, PKNU agar bergabung ke partai yang didirikan warga NU tersebut. Namun, bagi Idham Cholied, cara ini dinilai terlalu ruwet. Selain masih ada dua kubu di pihak PKB Kalibata hasil MLB Parung dan Ancol, juga menunggu sinyal dari Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum maupun sebagai anggota kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II.
"Jadi kalau gabung ke PKB jalannya masih ruwet menunggu sinyal Cak Imin. Beda ketum dengan menteri karena keberadaan sebagai menteri kan jadi representasi partainya di kabinet," tegas mantan Ketua DPRD Wonosobo tersebut.
Cara yang ditawarkan, menurut Idham, PKB yang masuk dalam partai yang didirikan para kiai tersebut, dan itu cara yang elegan.
"Pesimistis karena PKNU tak lolos ET (electoral threshold). Tapi kalau bergabung bakal bisa mencapai 5 sampai 6 persen," ujarnya.
Meski belum sampai ke tingkat format dan baru cara siapa yang bergabung, Idham menyatakan bahwa pihak PKNU dan PKB mempunyai komitmen membangun politik warga NU ke depan. "Untuk itu saya diminta datang dalam forum komite," imbuhnya. (sam)
Komite Islah PKB dan PKNU sedang mencari format islah yang terbaik untuk kedua partai berbasis nahdliyin itu. Sementara pembicaraan Ahad kemarin baru sebatas cara dan pihak mana yang mesti bergabung.
Demikian disampaikan Sekjen DPP PKNU H Idham Cholied di Jakarta Senin (17/5). Menurutnya, PKB menawarkan PKNU untuk bergabung saja. Namun bagi PKNU tawaran ini cukup rumit mengingat masih ada dua kubu di PKB.
Sekjen PKB Lukman Edi, PKNU agar bergabung ke partai yang didirikan warga NU tersebut. Namun, bagi Idham Cholied, cara ini dinilai terlalu ruwet. Selain masih ada dua kubu di pihak PKB Kalibata hasil MLB Parung dan Ancol, juga menunggu sinyal dari Muhaimin Iskandar sebagai ketua umum maupun sebagai anggota kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II.
"Jadi kalau gabung ke PKB jalannya masih ruwet menunggu sinyal Cak Imin. Beda ketum dengan menteri karena keberadaan sebagai menteri kan jadi representasi partainya di kabinet," tegas mantan Ketua DPRD Wonosobo tersebut.
Cara yang ditawarkan, menurut Idham, PKB yang masuk dalam partai yang didirikan para kiai tersebut, dan itu cara yang elegan.
"Pesimistis karena PKNU tak lolos ET (electoral threshold). Tapi kalau bergabung bakal bisa mencapai 5 sampai 6 persen," ujarnya.
Meski belum sampai ke tingkat format dan baru cara siapa yang bergabung, Idham menyatakan bahwa pihak PKNU dan PKB mempunyai komitmen membangun politik warga NU ke depan. "Untuk itu saya diminta datang dalam forum komite," imbuhnya. (sam)
Sunday, May 16, 2010
Ikut Berduka Atas Wafatnya Mohammad Nurul Anwar (28 th) putra KH. Zakariyah
Telah pulang ke Rahmatullah Almarhum Mohammad Nurul Anwar (28 th) putra KH. Zakariyah kemarin (sabtu, 15/5), berusia 28 Tahun dirumahnya Dusun Bululuar Desa Bululanjang Kec.Sangkapura Bawean. Hadir melawat, KH. Thabani dari Surabaya, KH. Ali Dhofir, KH. Hafid Halifi, Kyai Sudarman dan Kyai serta tokoh masyarakat Bawean lainnya seperti yang di lansir Media Bawean .
Menurut KH. Zakariyah, mengatakan, "Penyakit yang dideritanya cukup lama, sudah diobati kemana-mana tidak sembuh, berakhir dengan penyakit komplekasi," katanya.
Keluarga Besar Ikatan Keluarga Bawean Rantau Malaysia Ikut Berduka ,semoga rohnnya di tempatkan dengan rohnya orang-orang yang sholeh dan di ampunih semua dosa-dosa sewaktu hidupnya.
Semoga keluarga yang di tinggalkan mendapat ke sabaran dari Allah swt..Alfatehah