Friday, April 24, 2009

Suryadharma, Din, Hidayat, dan Cak Imin Masuk Bursa Cawapres

Jakarta - Keputusan Rapimnassus Partai Golkar yang mangusung Jusuf Kalla (JK) sebagai capres membuat peta Pilpres 2009 semakin seru. Jika sebelumnya hanya ada beberapa nama yang masuk bursa capres dan cawapres, keluarnya JK dari bursa cawapres SBY dan maju sebagai capres membuat sejumlah nama yang selama ini tidak masuk list menjadi 'laku' di bursa cawapres.

Sejumlah nama yang 'laku' itu antara lain, Din Syamsuddin, Hidayat Nurwahid, Muhaimin Iskandar, Wiranto, Sutiyoso, Sultan Hamengku Buwono X, dan Suryadharma Ali. Ketujuh nama ini sedang menjadi incaran para capres, termasuk SBY dan JK.Sumber detikcom di DPP PKS menyebutkan bahwa keluarnya Golkar dari koalisi pendukung SBY membuat PKS berpikir ulang mendukung Hatta Rajasa.

Deal yang sudah terbentuk dengan Hatta terancam bubar lantaran PKS ingin mengusung cawapres sendiri. Setidaknya 3 nama yang akan diusulkan PKS kepada SBY, yaitu Hidayat Nurwahid, Tifatul Sembiring, dan Salim Segaf Aljufri.

"Peta berubah sekarang setelah Golkar menarik diri dari koalisi pendukung SBY. Kita banyak dikontak oleh para capres. Kita mempertimbangkan untuk mengusung cawapres sendiri. 3 Nama sudah kami siapkan," kata sumber tersebut kepada detikcom, Jumat (24/4/2009).

Menurut sumber tersebut, ketiga nama ini akan menjadi bahan rapat Majelis Syuro yang akan digelar besok, Sabtu (25/4/2009) di Hotel Bidakara, Jakarta.

Selain ketiga nama ini PKS juga diperkirakan akan membahas evaluasi atas kesepakatan mendukung Hatta dan keluarnya Golkar dari koalisi pendukung SBY.

Dengan munculnya beberapa nama baru ini, otomatis pasang-memasang capres dan cawapres semakin terbuka. SBY akan kembali memikirkan soal cawapres yang akan digandeng dengan keluarnya Golkar dari barisan pendukung. Yang pasti, SBY tidak akan mengambil kader Golkar seperti Akbar Tandjung. Perkiraannya, SBY akan mempertimbangkan Hidayat Nurwahid yang mempunyai gerbong politik yang jelas di belakangnya.

Kemungkinan kedua, SBY mempertimbangkan Muhaimin Iskandar yang memiliki gerbong politik PKB dan dukungan warga Nahdliyin. Ketiga, SBY tetap mempertimbangkan Hatta Rajasa yang memiliki loyalitas dan chemistry meskipun dukungan PAN belum final.

Sementara itu, JK juga dikabarkan sedang menggalang kekuatan untuk mencari pendamping yang pas. Sejumlah nama yang sudah ditawari antara lain Hidayat Nurwahid, Wiranto, Din Syamsuddin, Sultan Hamengku Buwono X, dan Suryadharma Ali.

Dari sekian nama yang dilist Golkar, nama Hidayat memang dinilai paling potensial. Selain memiliki dukungan partai yang solid, Hidayat dinilai merepresentasikan figur bersih dan dari Jawa. Masalahnya, bagaimana dengan sikap politik PKS yang sudah mendukung SBY?

Pasangan JK-Wiranto bisa saja terjadi jika ketua Umum Hanura ini mau menurunkan gradenya dengan menjadi cawapres. Tetapi jika melihat fakta lapangan, akan sulit Wiranto mau menjadi cawapres. Wiranto diyakini akan meminta portofolio menteri yang lebih banyak dengan tidak mau menjadi cawapres.

Pilihannya, JK bisa saja lari ke Sutiyoso, Din Syamsuddin atau Suryadharma Ali. Jika JK memilih Sutiyoso, memang psangan ini terasa klop karena representasi Jawa dan non-Jawa terpenuhi.

Tetapi Sutiyoso yang tidak memiliki background partai tentu akan memberatkan JK kecuali Sutiyoso mampu merayu partai-partai kecil mengusung dirinya.

Demikian juga dengan JK-Din Syamsuddin. Faktor Din yang dari luar Jawa diperkirakan akan sulit digandeng JK karena basis pemilih berada di Jawa.

Selain itu Din juga belum memiliki partai pendukung yang signifikan, kecuali mendorong gabungan parpol mendukung dirinya. Umat Muhammadiyah yang dipimpin Din, bukan jaminan. Untuk menyambut ini, Din terlihat serius.

Iklan Din bersama pimpinan lintas agama tiba-tiba nampang kembali di televisi.Sementara JK-Suryadharma juga diprediksi sulit terjadi karena di internal PPP masih terjai tarik-menarik antara kubu Bachtiar Chamsyah yang mendukung SBY dan kubu Suryadharma yang menginginkan keluar dari SBY.

Bagaimana dengan Megawati? Sampai saat ini memang Ketua Umum DPP PDIP ini belum mengumumkan cawapresnya. Tetapi dari hasil lobi-lobi terakhir, diprediksi Mega akan menggandeng Prabowo Subianto.

Duet ini diyakini oleh kader PDIP akan mempu melawan kekuatan SBY yang memiliki logistik kuat dan pencitraaan yang mantap."Duet Mega-Prabowo ini sempurna.

Bu Mega memiliki pendukung fanatik, Pak Prabowo merepresentasikan kekuatan perubahan dan memiliki dana yang tak terbatas. Ini pasangan serasi yang sangat dahsyat," kata salah seorang fungsionaris DPP PDIP kepada detikcom, Jumat (24/4/2009).

Duet Mega-Sultan memang sempat dimunculkan. Tetapi pasangan ini diyakini masih akan susah melawan SBY karena figur Sultan yang terkesan lemah lembut dinilai tidak memiliki daya dobrak yang diharapkan para pemilih.

Akibatnya, wacana duet ini terbengkalai di tengah jalan alias tidak jelas nasibnya.Semua capres saling menunggu siapa menggandeng siapa. Hal ini dinilai sebagai strategi jitu karena akan bisa membaca peta pertarungan pilpres sejak awal. Jika seorang capres salah memilih pasangan, bisa dipastikan akan mengalami kesulitan dalam langkah selanjutnya, apalagi menang. ( yid / asy )

No comments: