Sunday, September 26, 2010

Sebuah Kerangka Manusia Prasejarah Ditemukan di Aceh Tengah


TEMPO Interaktif, Takengon - Peneliti Balai Arkeologi (BALAR) Medan, Sumatera Utara, mengemukakan kawasan Kampung Mendale, Kecamatan Kebayakan, Aceh Tengah, pernah dihuni manusia zaman prasejarah. Pernyataan ini diungkapkan setelah para peneliti itu menemukan batu kapak persegi dan sejumlah tulang manusia di ceruk (gua) hulu Danau Lauttawar.

Dua peneliti senior dari BALAR Medan, Ketut Wiradnyana dan Lucas Partanda Koestoro, di Takengon Minggu (26/9) mengatakan, banyak ceruk di Mendale yang kini sedang digali (eksavasi) ditemukan beberapa kepingan budaya masa lalu, seperti tulang, gerabah, molusca bahkan tulang manusia dan kerangka.

"Salah satu temuan terbaru adalah kerangka manusia di Ujung Karang Kebayakan yang merupakan titik penggalian baru setelah ceruk Mendale," kata Ketut. Dalam penelitian ini ia mengajak bersama enam arkeolog lainnya.

Menurut Ketut, temuan kerangka manusia di Ujung Karang dalam kondisi terlipat belum dapat dipastikan umurnya karena masih dalam proses penggalian.

"Mungkin hari Selasa mendatang semua bagian kerangka manusia tersebut akan dapat dilihat secara utuh," kata Ketut.

Kata dia, dengan temuan kerangka manusia di Ujung Karang Kebayakan berarti sudah dua kerangka manusia ditemukan BALAR Medan di dua lokasi berbeda, Ceruk Mendale dan Ceruk Ujung Karang.

"Semakin menarik temuan di Aceh Tengah. Semoga dapat membuka tabir sejarah masa lalu dari temuan sisa-sisa atau sampah masa lalu," sebut Lucas.

Rasa penasaran peneliti arkeolog Sumatera dari BALAR Medan semakin besar setelah salah seorang warga Takengon Zulkifli MD, mengatakan kepada peneliti dari BALAR bahwa di daerah Umang Isaq Kecamatan Linge ditemukan beberapa bentuk tulisan (goresan) di atas batu.

"Saya yakin tulisan tersebut bukan dibuat sekarang karena batunya sudah berlumut dan bentuk tulisan/goresan yang tidak saya pahami," kata Zulkifli.

Menurut para peneliti arkelolog, guna mengetahui umur, semua temuan di seputaran Mendale, diperlukan analisa karbon di Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).

1 comment:

Perindu Baitullah said...

semoga sejarah dapat menjadi pelajaran buat kita. bukan sekedar cerita dan fakta.